Pandemi Covid-19 Tumbuhkan Inspirasi, Limbah Kayu Disulap Jadi Uang -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Pandemi Covid-19 Tumbuhkan Inspirasi, Limbah Kayu Disulap Jadi Uang

Selasa, 22 Desember 2020

 


Inilah limbah kayu yang diolah jadi uang lima pemuda Talang, Jorong Sikabu-kabu, Nagari Tanjuang Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar). (ist)


Lima Puluh Kota, fajarsumbar.com - Berawal banyak berdiam diri di rumah akibat pandemi Covid-19, warga Talang, Jorong Sikabu-kabu, Nagari Tanjuang Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) ini mencoba menciptakan inovasi untuk mendapatkan income. Limbah kayu mereka disulap jadi uang.


Banyaknya waktu berdiam di rumah selama Covid-19, lima pemuda ini berfikir keras sekaligus mengembangkan hobbynya dengan memanfaatkan limbah kayu yang tidak lagi terpakai diolah untuk dijadikan uang.


Mereka adalah, Nofrizal, Riki, Rahmad, Eki Amir dan Alfitra. Lima pria ini terlihat sibuk mendiskusikan sebuah model dan langkah awal memulai garapan sebuah karya yang akan diproduksi. Berbagi ide, saling berargumentasi menentukan corak sebuah produk. Akhirnya langkah awal pekerjaan tergambar untuk digarap. 


Memanfaatkan limbah kayu yang tak lagi terpakai, akar-akar tua yang yang sudah terkubur tanah, hingga perpaduan ornamen sederhana menggunakan besi dan ruyung dari pohon yang disebut "Sampia" oleh warga sekitar. Seperti apakah hobi baru produktif para anak muda ditengah maraknya caffe-cafe di Payakumbuh dan Limapuluh Kota. 


Limbah kayu tak beraturan, bentuknya yang kumal, kotor tergelatak begitu saja disamping bengkel kayu sederhana, di Talang, Jorong Sikabu-kabu, Nagari Tanjuang Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota.  


Bukan kerajinan baru, namun bagi anak-anak muda yang kini memberi nama komunitasnya "Kalilawa" itu, sebuah hal baru mengisi waktu sampingan yang lebih produktif dan menghasilkan. Meski hanya berawal dari hobi, akhirnya hasil kerajinan mulai ada pemesan dan perlahan laku di pasaran. 


"Seperti namanya, "Kalilawa" (kelelawar-red) sejenis hewan yang mencari makan ketika malam hari, Kelelawar itulah jika dalam bahasa Indonesia. Pekerjaan lebih banyak dilakukan pada malam hari sejak sore hingga tengah malam,"sebut Nofrizal, salah satu penggiat yang juga pengrajin kayu bersama beberapa orang lainnya di bengkel Kalilawa kepada fajarsumbar.com,  Senin (22/12/2020). 


Kayu olahan yang semula hanya terlihat seperti sampah, akhirnya mampu menunjukkan rona eksklusif menjadi barang berharga dan disuka para penikmat produk olahan kayu. Meja, kursi unik, pot bunga antik hingga rak dan penyangga ponsel juga jadi barang-barang menarik yang diproduksi. 


Nofrizal bersama Riki, Rahmad, Eki Amir, dan Alfitra terlihat sibuk mendiskusikan sebuah model dan langkah awal memulai garapan sebuah karya yang akan diproduksi.  


Pembagian tugas dikomunikasikan, meski kadang di tengah perjalanan kerap berubah dari perencanaan. Sebab harus menyesuaikan dengan kondisi bahan yang digunakan dan menjadi daya tarik lebih dipasaran.


"Memang sebuah pekerjaan yang sulit, namun tantangannya menjadi kepuasan awal dalam karya ini, tentunya hasil akhir memberi kenikmatan,"sebut Majid setengah bercanda. 


Belum ingin dan mau disebut profesional, meski sejumlah hasil karya sudah banyak dipesan dan diminati. Sebab menurut Eki Amir, salah satu penggiat kerajinan sederhana itu, proses kerja masih menggunakan peralatan sederhana, jumlah produksi masih terbatas.


"Semoga sedikit lagi mampu menjadi profesional dan memproduksi masal karya-karya kerajinan kayu yang diminati," harap Amir. 


Memang masih menggunakan peralatan-peralatan manual sederhana, membutuhkan waktu pengerjaan yang terbilang cukup panjang. Namun produk yang dihasilkan sudah sangat halus dan mampu bersaing dengan pasar-pasar kerajinan kayu. Polesan dan permainan warna pada hasil karya membuatnya terkesan eksklusif. 


Menurut Nofrizal yang jadi penggerak komunitas, setidaknya bagi kawan-kawan yang memiliki waktu luang di malam hari, bisa menyalurkan hobi sembari mengumpulkan sedikit pendapatan tambahan. "Setidaknya mengisi waktu menjelang mata mulai mengantuk di malam hari,"sebut Nof. 

Tentunya tidak sesederhana yang diungkapkan para penggiat kerajinan kayu ini, sebab dari bocoran informasi dari sejumlah pecinta karya berbahan kayu, ada produk yang sudah dihargai jutaan hingga belasan juta rupiah. Tentunya bukan sebuah pekerjaan "kaleng-kaleng" yang tak menjanjikan. 

Sebagai rintisan usaha, anak muda yang kini memulai karya dengan peralatan sederhana itu, tak patah arang. Sebab semangat untuk terus berkembang menjadi salah satu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bakal menemukan peluang lebih baik. 

"Kita membutuhkan peralatan lebih baik, kemampuan keuangan untuk modal agar mampu bergerak lebih progresif,"ucap para penggiat kerajinan kayu ini, sepakat untuk terus semangat berkarya dan terus produktif.


Para pemuda ini, terus berinovasi meski di tengha pandemi Covid-19 tidak harus terus berdiam diri. Mereka telah melakukan sesuatu yang berarti di tengah hantaman virus corona. Saat bekerja mereka selalu berpedoman pada protokol kesehatan dengan menegakkan 3 M, selalu jaga jarak, memakai masker dan sering mencuci tangan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (ul/ab)