Unand Bantu Yayasan Sumatera Volunteer untuk Tumbuhkembangkan Usaha Kerajinan Tangan -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Unand Bantu Yayasan Sumatera Volunteer untuk Tumbuhkembangkan Usaha Kerajinan Tangan

Senin, 28 Desember 2020

Oleh: Winny Alna Marlina, ST. MM

Menurut Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 1 Ayat 9 menyatakan Perguruan Tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. 


Dalam pasal tersebut juga ditegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan kegiatan sivitas akademika dalam mengamalkan dan membudayakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. 


Sejalan dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 maka Kampus II Universitas Andalas Payakumbuh melaksanakan pengabdian. 

Pengabdian dilakukan di Sumatra Volunteer dengan pembiayaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas. 


LPPM UNAND telah banyak melalukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan cukup mendapat respon yang positif dari masyarakat, kalangan industri dan kelompok sosial. Kinerja lembaga pengabdian kepada masyarakat Perguruan Tinggi dalam bidang Penerapan IPTEKS ke masyarakat. 


Sumatra Volunteer merupakan Yayasan atau NGO (Non profit Organizasition) yang salah satu visinya memberikan pendidikan Bahasa Inggris gratis untuk anak-anak, pemuda dan masyarakat. Yayasan Sumatra Volunteer didirikan tahun 2014 oleh Muhammad Husen, seorang putra daerah Lima Kaum Tanah Datar. Alamat Yayasan di Jr. Balai Labuah Bawah-Lima Kaum, Tanah Datar.


Progaram Yayasan tidak hnaya pengajaran gratis tapi juga perduli dengan lingkungan. Salah satuanya pembuatan sedotan dari bambu untuk dijual dan sebagian pendapatannya disumbangkan kepada masyarakat dalam bentuk tong sampah agar menjaga lingkungan. 

Produk yang dihasilkan oleh Yayasan berupa sedotan dari bambu telah terjual di pasar lokal dan Mancanegara. Untuk eco present berupa sedotan bambu yang dijual seharga Rp5.000/buah dan paket lengkap Sumatra straws dijual seharga Rp50.000. 


.


Kendala yang dihadapi Yayasan yaitu dari segi finansial, untuk pendanaan proses kegiatan program Yayasan masih tergantung dengan dana pribadi. 


Yayasan Sumatra Volunteer belum memiliki donatur tetap untuk pelaksanaan program, oleh karena itu selama ini dana yang di dapat bersumber dari dana pribadi, sumbangan dari donasi yang sifatnya tidak mengikat dan tidak tetap, dan dana bersumber dari event-event yang dilaksanakan sekali setahun seperti dari AYC (Asian Youth Camp). 


Pendanaan yang masih bergantung pada dana pribadi ini menjadi salah satu kendala karena yayasan belum mampu memberikan gaji/ uang lelah bagi relawan yang hampir setiap hari berkontribusi untuk keberlangsungan kegiatan/program. 


Oleh karena itu, Yayasan Sumatra Volunteer berusaha untuk membantu kebutuhan pribadi relawan dengan menjual sedotan bambu yang dibuat langsung oleh relawan itu sendiri. Penjualan Produk Sumatrastraws masih terbatas dan belum memiliki website serta belum masuk ke market place untuk menjual produknya. Proses pembuatan sedotan dari bambu masih terkendala dengan minimnya alat seperti mesin Gerinda untuk penghalusan sedotan bambu. Untuk itu dilakukan pengabdian.


Pengabdian dilaksanakan tanggal 17 Desember 2020 di Yayasan Sumatera Volunteer yang berlokasi di Tanah Datar. Skim Pengabdian berupa Program Kemitraan Masyarakat Membantu Usaha Berkembang memiliki tema pengabdian “Digital Marketing Untuk Promosi Produk Kreatif dari Bambu”. 


Kegiatan pengabdian dilakukan dibantu oleh mahasiswa. Metode pengabdian berupa pelatihan digital marketing karena sarana promosi penjualan produk dari bambu masih terbatas. Pemateri ialah Agung Praymesa, praktisi digital marketing yang bekerja di Area Coordinator Biznet Branch Padang.


Awal mulanya pendirian Yayasan berupa nonprofit dan biaya operasional Yayasan dari sumbangan suka rela Donatur dan anak Magang dari Luar Negeri, namun karena masa Pandemic COVID-19, maka anak magang tidak bisa datang dan Yayasan mengalami kendala di biaya sehingga penjualan dari bambu menjadi cara untuk membiayai yayasan. 


Dalam pelatihan ini, Sumatra Volunteer mendapatkan masukan untuk membuat semua platform digitalnya menjadi satu dan terhubung satu sama lain mulai dari Instagram, Facebook dan Shopee. Output pengabdian berupa website  sumatravolunteer.com yang berguna untuk promosi dari produk yang dijual Yayasan.

   

Dalam acara pengabdian, Husen memperagakan cara membuat sedotan dari bambu. Bambu diambil di hutan dan dipotong baru di keringkan. Setelah itu dikikis manual agar halus sehingga pengerjaan sedotan secara manual membutuhkan alat Gerinda agar produksi lebih banyak dan pengerjaan hemat waktu. Setelah bambu di kikis baru di rebus agar bersih dan streril lalu setelah kering baru dibuat lebel pada mesin lebelling. 


Dalam acara pengabdian, Ketua pengabdian melakukan serah terima mesin Gerinda dan serah terima website.

 

Dari kegiatan pengabdian, Universitas Andalas yang telah membantu dalam pembuatan website dan pengadaan barang dan berharap agar mendapatkan izin BPOM dan izin prinsip agar usahanya bisa berjalan dan bisa memenuhi biaya opersional relawan. Semoga dengan adanya kegiatan usaha dari Yayayasan maju dan berkembang pesat.(*)