Alek Nagari pada Era Pandemi, Masih Adakah? -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Alek Nagari pada Era Pandemi, Masih Adakah?

Kamis, 18 Februari 2021

Oleh : Abdul Jamil Al Rasyid 

(Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand Angkatan 2019 )






Pernahkah kita sebagai orang Minang sekarang mendengarkan Indang semalam  suntuak lagi?


Jawaban kita tentu beragam ada yang yang pernah dan ada juga yang tidak. Akan tetapi, kebanyakan generasi milenial sekarang hampir bisa dikatakan sudah tidak ada lagi yang mendengar alek nagari sampai semalam suntuak lagi. Apa penyebab dari itu semua? 


Mari kita bahas satu per satu. Dahulu misalnya masyarakat menonton randai semalam suntuk sekarang sudah tidak ada lagi. Durasi nya dipercepat sudah tidak ada lagi semalam suntuk pertanyaan nya ada apa ini semua apakah ini semua pergesaran nilai kebudayaan kah? Mungkin jawaban terbaik tentu ada dalam Alek Nagari.


Alek Nagari merupakan acara yang berisikan banyak pertunjukan seni tradisional yang digunakan untuk melestarikan seni tradis tersebut.   Alek nagari merupakan sebuah acara yang diadakan untuk mengatasi hilangnya budaya dan kesenian yang ada di Minangkabau umumnya. Acara yang didakan diantaranya perlombaan Gandang Tasa, penampilan kesenian tradisional Ulu Ambek, Baindang dan penampilan kesenian dari berbagai sanggar yang ada dilengkapi dengan bapaereh layang-layang, dan tentunya berburu babi.


Berbagai macam kesenian yang tampil di alek nagari yang dananya berasal dari para perantau dan juga masyarakat. Perantau misalnya saja indang perantau yang mendanai satu kali naik atau 2 kali tampil misalnya. Begitulah selebihnya hasil dari sumbangan-sumbangan masyarakat yang juga terpancing untuk melakukan pemggalangan dana. Dana tersebut digunakan untuk membuat fasilitas misalnya mesjid, surau, pos ronda dan lain-lain. Karena asalnya dari perantau maka masyarakat juga ikut terpancing untuk berpartisipasi.


Saat  perantau pulang basamo saat lebaran bisanya  membuat sebuah acara. Acara yang dibuat yaitu Alek Nagari. Acara ini didanai oleh  Perantau dengan memberikan sumbangan untuk membuat acara  tersebut,. Perantau biasanya menanggung semua dana yang ada dalam acara tersebut. Mereka berlomba-lomba dalam memberikan pundi-pundi uang. 


Baik yang kaya di perantauan maupun yang baru merantau juga ikut berpartisipaai. Uang hasil dari sumbangan para pertama juga memancing reaksi masyarakat yang tidak merantau juga memberikan sumbangan agar terlaksna acara. Contoh perantau memberikan dana yaitu indang, indang ini didanai  satu kali naik atau 2 kali tampil. 


Begitulah, hasil dari sumbangan-sumbangan masyarakat yang juga terpancing untuk melakukan penggalangan dana yang berasal dari perantau ini. Dana tersebut digunakan untuk membuat fasilitas umum misalnya Masjid, Surau, Pos Ronda dan lain-lain. 

           

Misalnya saja di tempat penulis, terkahir kali di tempat penulis alek nagari diadakan Idul fitri tahun 2019  Di korong Sialang Tandikek Utara Kabupaten Padang Pariaman. Korong tersebut mengadakan alek nagari yang didanai oleh perantau, karena perantau pulang basamo maka diadakan acara alek nagari yang terdiri dari indang, luambek, pereh layang-layang (lomba layang-layang) dan acara lainnya. Hal tersebut diadakan supaya tradisi kesenian tidak luntur dalam masyarakat. 


Alek nagari di tempat penulis diadakan Korong/jorong. Alek Nagari di tempat penulis ini ditegakkan bersama dan uang dari hasil alek nagari dikelola langsung oleh niniak mamak, wali korong atau seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya alek nagari saja, hiburan semacam orgen tunggal juga didanai perantau. Tetapi orgen tunggal sudah dilarang oleh pemerintah sekarang karena orgen tunggal bisa merasa generasi muda serta juga bisa menghilangkan tradisi-tradisi kesenian yang masih melekat dalam masyarakat.


Sejak pandemi  Covid-19Alek Nagari sudah tidak ada lagi, karena masyarakat Wali Nagari sudah tidak mau mengambil resiko dengan menegakan acara-acara tertentu. Tentu ini suatu kemunduran karena setiap tahunnya di tempat domisili penulis selalu ada acara Alek Nagari ini untuk diadakan. Alek Nagari sendiri sudah hampir 2 tahun sudah tidak terdengar bagaimana kabarnya. 


Sekarang kelompok seni tradisi misalnya saja kelompok seni tradisi indang sudah tidak ada lagi jam tayang atau orderan untuk menampilkan seni tradisional yang ada. Tidak mungkin Alek Nagari ditegakkan sesuai dengan protokol kesehatan karena mayoritas masyarakat sudah bosan dengan isu Covid-19.


Pada lebaran biasanya setiap korong selalu melaksanakan Alek Nagari untuk melestarikan seni tradisi yang ada di Padang Pariaman dan tentunya juga di Minangkabau umumnya. Pandemi memang mengubah kehidupan bagi masyarakat misalnya saja tentang aspek kesenian. Alek Nagari adalah sebuah lahan untuk mata pencaharian karena setiap seni tradisional Minang yang tampil selalu dikasih uang jemputan. 


Pernah penulis menanyakan kepada salah seorang niniak mamak, dia mengatakan tidak mungkin melaksanakan Alek Nagari di tengah pandemi ini karena keramaian dan jaga jarak dalam acara ini tidak bisa dipastikan dan bisa menyebabkan klester baru bagi virus Covid-19. Bisa saja katanya kita meminta izin kepada wali nagari tetapi dia tidak mau mengambil resiko terhadap masyarakat yang bisa berakibat kepada masyarakat itu sendiri. Tidak mungkin seluruh masyarakat patuh memakai masker dan jaga jarak.


Kenapa sekarang generasi milenal sudah tidak ada lagi menonton Saluang, Indang dan lainnya semalam suntuak? Jawabannya tentu beragam tetapi setelah penulis melihat ke lapangan jawaban yang paling tepat adalah yang pertama yaitu perkembangan Covid-19 yang semakin  mengganas. Seperti yang dibahas di atas Wali Nagari juga sudah melakukan maklumat terhadap warga agar menghindari kerumunan. Pandemi sudah menjadi berkah karena sebelum pandemi anak muda ini yang memiliki hobi Menggeluti seni tradisional biasanya latihan di sanggar-sanggar tertentu. Akan tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Pandemi membuat semua pola kehidupan di berbagai bidang ikut berpengaruh.



Akan tetapi jauh sebelum Pandemi ada faktor yang mempengaruhi yaitu  Perkembangan teknologi  karena generasi muda sekarang sudah tergoda dengan permainan yang disediakan dalam HP oleh karena itu mereka sudah mulai melupakan seni tradisi yang ada. 


Misalnya saja HP,  Begitu pengaruh HP sekarang sudah sangat memprihatinkan bagi generasi muda kedepannya. Anak muda sekarang lebih ramai di Lapau wifi daripada melihat seni tradisional. Ditambah lagi sekarang sekolah dari SD sampai SMA hanya membuat tugas saja tentu menjadi berkah tersendiri bagi anak tersebut dan dijadikan momentum untuk memainkan HP. Penulis kira dari anak SD sampai SMA sudah tidak tahu lagi mana yang seni tradisi Randai, Indang dan lain-lain, karena sekarang zaman sudah berubah generasi milenial sekarang sudah mulai tidak peduli lagi terhadap tradisi yang berkembang dalam masyarakat.


Untuk itu kita sebagai generasi yang serba online masa pandemi  ini kita harus bisa menelaah bagaimana pengaruh HP terhadap anak. Sekarang misalnya tidak terjadi pandemi, diadakan acara Alek Nagari hanya diisi oleh orang tua yang sudah berumur 40 tahun keatas saja dia lebih mengerti tentang tradisi, anak muda mana mau melihat seni tradisi semalam suntuk yang sangat membosankan bagi dirinya. 


Makanya kita sebagai orang tua, sebagai kakak kita harus bisa mensosialisasikan terhadap anak atau adek kita untuk kembali atau paling tidak mengetahui tentang seni tradisi yang ada di Minangkabau. Pekerjaan kita tentu berat karena penjajahan di zaman sekarang bukan lagi fisik tetapi penjajajahan secara teknologi yang dilakukan oleh bangsa asing. 


Harapan ke depannya seni tradisi kita itu banyak kita sebagai warga Minangkabau wajib mengetahui tentang seni tradisi yang ada di kampung kita, agar kelak seni tradisi ini tetap berkembang dan tetap ada hingga beberapa tahun atau abad kedepannya. (***)


(Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid  mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Patamuan Tandikek)