Maria Pauline Lumowa Dituntut 20 Tahun Bui -->

Mgid Bawah Bapenda

Maria Pauline Lumowa Dituntut 20 Tahun Bui

Selasa, 11 Mei 2021

ilustrasi


Jakarta, fajarsumbar.com - Terdakwa kasus pembobolan kas Bank Negara Indonesia (BNI) 46 cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif, Maria Pauline Lumowa dituntut penjara selama 20 tahun dan denda Rp1 miliar subsidi dari enam bulan kurungan.


"Menuntut agar majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menyatakan terdakwa Maria Pauline Lumowa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah secara berlanjut melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan melakukan TPPU," ucap jaksa penuntut umum Sumididi saat membacakan amar tuntutan, Senin (10/5/2021).


Jaksa juga menuntut agar Maria dijatuhi pidana tambahan berupa kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp185,822 miliar. Jika tidak dibayar paling lama satu bulan sesudah putusan memiliki kekuatan hukum tetap (inkrah), maka harta bendanya disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti.


"Dalam hal terdakwa tidak memiliki harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka diganti dengan pidana penjara selama 10 tahun," ujar jaksa sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.


Dalam pertimbangannya, jaksa mengungkapkan hal yang memberatkan yakni perbuatan Maria tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal yang meringankan yakni Maria bersikap sopan selama persidangan, belum pernah dihukum, dan aset perusahaan milik terdakwa yang berada di bawah Gramarindo Group dan PT Sagared Team telah dilakukan penyitaan.


Jaksa menilai Maria telah merugikan keuangan negara sebesar Rp1,2 triliun atas pengajuan pencairan beberapa letter of credit (L/C) dengan melampirkan dokumen ekspor fiktif ke BNI 46 cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Maria dinilai terbukti telah memperkaya diri sendiri dan korporasi.


Jaksa merinci, Maria menerima uang US$2.709.554,10; Rp234.341.393; US$10.535.711,64; €4.079.283,16; US$7.802.044,50; €15.663.393.


Lalu US$9.645.352,82; €8.041.793,51; US$24.135.498,20; €9.663.034,68; US$3.140.681,26; US$15.708.371,53; €4.083.753,44; €4.656.244,79; €7.890.690,01; US$51.500.000; dan Rp83.000.000.000.


Uang itu diterima Maria melalui rekening pribadinya maupun rekening perusahaan yang tergabung dalam Gramarindo Group yang dikendalikannya. Sedangkan orang lain yang diperkaya adalah Adrian Herling Waworuntu sebesar Rp300 miliar.


Adapun korporasi yang diperkaya dari perbuatan Maria yakni PT Jaka Sakti Buana Internasional dengan US$11.910.515; PT Bima Mandala sebesar US$250.000; PT Mahesa Karya Putra Mandiri US$5.400.000; PT Prasetya Cipta Tulada Rp2.200.000.


Sidang selanjutnya dengan agenda pembacaan nota pembelaan atau pledoi akan dilaksanakan pada Rabu, (19/5/2021). (*)