Perkuat Ekonomi Petani Hutan dan Perhutanan Sosial, Kadishut Sumbar Sambangi Sawahlunto -->

IKLAN MGID ATAS

Perkuat Ekonomi Petani Hutan dan Perhutanan Sosial, Kadishut Sumbar Sambangi Sawahlunto

Selasa, 18 Mei 2021
Foto utama, Kadishut Sumbar Ir.Yozarwardi.U.P S.Hut.M.S saat memanen madu Kelulut atau Galo-galo di Kebun Buah Kandi Sawahlunto.

 

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat (Kadishut), Ir.Yozarwardi.U.P S.Hut.M.Si, beserta rombongan sambangi Kota Sawahlunto dalam rangka memperkuat perekonomian petani hutan dan perhutanan sosial, Selasa 18 Mei 2021.


Yozarwardi berprinsip progam ini tidak boleh gagal dan mesti diperhitungkan kondisi tempat yang akan dijadikan pengembangan Madu Kelulut atau Galo-galo dengan Tagline-nya 'Tidak Boleh Gagal'.


Tahun ini Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat ada 2.400 kotak lebah yang akan didistribusikan ke kelompok petani hutan dan kelompok perhutanan sosial di Sumatera Barat. 


Ada 12 kelompok di beberapa kabupaten/kota, salah satunya ada di Kota Sawahlunto. Lalu kenapa kepala dinas langsung yang turun ke sini (Sawahlunto red)? 


Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat saat diskusi dikediaman Ketua Kelompok HKm Lurah Basung.


"Karena saya melihat ada potensi yang besar di Kota Sawahlunto ini," sebut Kadishut di kediaman Syafriman Ketua Kelompok Perhutanan Sosial Lurah Basung, Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto.


Pertama, ada Hutan Kemasyarakatan (HKm), ada skema perhutanan sosial dan itu sudah ada izin SK Menteri LHK dan lembaga kelompok sudah ada.


Kedua, potensi di Kota Sawahlunto ada komunitas kelompok yang fokus pengembangan Lebah Kelulut atau Trigona dan sudah menghasilkan produksi madu.


Kadishut saat memberikan motivasi kepada Komunitas Madu Galo-galo Cupiang Sawahlunto.


"Kemudian juga kelembagaan KPH juga kuat, seperti KPHL Bukit Barisan. Penyuluh juga ada disini, sehingga ini adalah potensi kenapa saya pilih Kota Sawahlunto sebagai salah satu percontohan," terang Kadishut.



Jadi, sambung Yozarwardi, Ketua HKm Lurah Basung Syafriman atau biasa disapa Cap sudah paham betul kemana arah perhutanan sosial ini. Tujuannya adalah dari kegiatan ini untuk meningkatkan petani hutan melalui hasil hutan bukan kayu yaitu madu lebah. 


Kemudian menumbuhkembangkan usaha-usaha kecil di pinggir-pinggir hutan. "Jadi saya kira itu tujuan kita kenapa Sawahlunto dijadikan percontohan," ungkap Kadishut yang mengaku sudah kenal lama dengan Syafriman, tepatnya sejak 2014 lalu.


Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat melakukan sharing di Kebun Buah Kandi Sawahlunto.

Harapannya, tentu dengan adanya program budidaya Kelulut atau Galo-galo ini, kelembagaan kelompok semakin kuat dan ada usaha berbasis kehutanan yaitu madu Kelulut. Ini nanti, setiap bulan mereka panen sudah bisa menghasilkan pendapatan dan menambah pendapatan rumah tangga seluruh anggota kelompok.


Selanjutnya, dengan adanya lebah ini dapat membantu penyerbukan tanaman buah-buahan. Hasil penelitian mengatakan, 180 persen meningkat hasilnya dengan penyerbukan oleh lebah ini.


Yang terakhir adalah akan dihasilkan madu Galo-galo yang berkualitas di Sawahlunto dan dapat memberikan manfaat selain menambah pendapatan anggota kelompok perhutanan sosial serta seiring dengan itu menjaga hutan supaya tidak ditebang lagi. Cukup dengan membuat usaha di pinggir-pinggir hutan. 


"Kalau ada nanti kelompok petani hutan dan perhutanan sosial berminat untuk pengembangan madu Galo-galo, disini ada kepala resortnya Defi, silahkan hubungi dan nanti akan di fasilitasi serta juga ada kepala KPH-nya, Kepala KPHL Bukit Barisan Kusworo," tandasnya.


Kepala KPHL Bukit Barisan Kusworo, SP.M.Si saat diskusi mengatakan program pengembangan madu Lebah Kelulut atau Galo-galo di Hutan Kemasyarakatan (HKm) Lurah Basung direncanakan dan dilaksanakan pada bulan Juni 2021 bekerjasama dengan Komunitas Madu Galo-galo Cupiang.


Sementara itu, Ketua Kelompok HKm Lurah Basung Syafriman menyambut baik rencana program ini dapat terlaksana dengan baik dan akan melaksanakannya sesuai dengan peruntukannya. 


Pemberian izin usaha pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (HKm) oleh kelompok tani Lurah Basuang seluas 198 hektar pada kawasan hutan produksi tetap (HP) tersebut tertuang dalam surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor: SK.3243/Menlhk-PSKL/PKPS/PSL.0/5/2017.


"Di HKm Lurah Basung seluas itu dan dengan tersedianya rumput untuk pakan ternak yang melimpah. Juga dapat dikembangkan untuk peternakan sapi kedepannya," harap Syafriman kemudian.


Hery Setiawan saat memberikan keterangan kepada Kadishut Sumbar terkait pengelolaan Madu Kelulut atau Galo-galo di Kebun Buah Kandi.


Selain disambangi Kadishut Sumbar Ir.Yozarwardi.U.P S.Hut.M.Si dan Kepala KPHL Bukit Barisan Kusworo, SP.M.Si turut hadir Kasi Hutan Adat dan Kemitraan Tito Trio Putra S.Hut.M.Si, Kasi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan

Cucu Sukarna ,S.IP, Karesort VII Sawahlunto Defitri,S.Hut, Penyuluh Kehutanan Doni Otriandi, S.Hut, Polisi Kehutanan Neldiyantis dan Hery Setiawan Komunitas Madu Galo-galo Cupiang Sawahlunto.


Terpisah, Kepala Desa Batu Tanjung Marwan berharap, pemanfaatan lahan di HKm Lurah Basung juga berpotensi untuk pengembangan peternakan sapi karena ketersediaan rumput sebagai pakan ternak serta dapat meningkatkan kesejahteraan perekonomian anggota kelompok perhutanan sosial.


"Terimakasih banyak kepada Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat yang telah memberikan kontribusi positif, kepercayaan dan dukungan moril maupun materil untuk meningkatkan perekonomian masyarakat terutama di HKm Lurah Basung ini," imbuhnya. (ton)