Tragedi Danau Tandikek, Ustadz Johan Efendi Lc, MH: "Harus Disikapi Secara Nyata" -->

IKLAN MGID ATAS

Tragedi Danau Tandikek, Ustadz Johan Efendi Lc, MH: "Harus Disikapi Secara Nyata"

Jumat, 28 Mei 2021
Ustadz Johan Efendi Lc, MH


Sawahlunto, fajarsumbar.com - Ustadz Johan Efendi Lc, MH turut berkomentar terkait cerita mistis tentang tragedi dermaga Danau Tandikek di objek wisata Camping Ground Kandi Sawahlunto, Sumatera Barat yang merenggut 5 nyawa sekaligus, Rabu 26 Mei 2021 lalu.


Ustadz Johan Efendi jebolan S1 Al Azhar Mesir dan S2 UIN IB ini menyampaikan beberapa hal sebagai berikut ;


Pertama, tentunya semua yang terjadi dikembalikan kepada Allah SWT, karena semua kejadian yang ada ini adalah menurut kehendak dan kuasa Allah SWT. Termasuk juga kematian yang memang disitu pula akhir dari kehidupan warga yang menjadi korban tragedi di Danau Tandikek.


"Kedua, terkait dengan kejadian mistis yang dialami oleh korban, tentunya kita juga tidak akan membantahnya secara mutlak, akan tetapi dalam hal ini tentunya sebagai hamba Allah, tentu kita beriman kepada yang gaib, bahwa kita hidup di dunia ini berdampingan dengan yang gaib, jin, malaikat dan lain-lain," ujar Ustadz Johan, Jumat 28 Mei 2021 malam usai melaksanakan tausyiah.


Ketiga, menghubung-hubungkan tragedi  di Danau Tandikek disebabkan oleh mistis ular besar, rasanya ini tidaklah pas. Karena jin yang ghaib itu tidak akan merusak barang-barang manusia, merusak dermaga dan lainnya. 


"Jin itu sifatnya Yuwaswis (membisikkan pada dada), merusak psikis. Kalau ular tersebut merusak, berarti tinggal disampaikan ke masyarakat untuk berhati-hati, sama halnya dengan buaya atau binatang lainnya," sambung Ustadz Johan kepada fajarsumbar.com.


Ketiga, menghukum kan sesuatu yang Zahir (nyata) dengan yang batin (gaib) tidak lah tepat, tragedi rubuhnya dermaga itu Zahir (nyata), adapun disebabkan karena mistis ular besar dan lainnya adalah batin (gaib) maka tidak bisa hukumnya seperti itu. 


Logikanya, sama halnya dengan ketika seorang hakim bertanya kepada seorang tersangka pembunuhan, lalu tersangka menjawab, "saya membunuh karena mendengar suara suruhan untuk membunuh, atau karena saya nampak ada sosok yang menyuruh untuk membunuh," tentunya hal ini tidak bisa dijadikan alasan.


"Tentunya tragedi ini harus kita sikapi secara Zahir juga, mungkin daya tahan bangunan yang sudah waktunya untuk ambruk atau sebab-sebab yang lainnya. Kedepannya, ini tentu menjadi perbaikan bagi kita khususnya bagi pihak terkait supaya hal serupa tidak terjadi lagi dengan meningkatkan safety bangunan dan hal lainnya," pungkasnya. (ton)