200 Ribu Warga Palestina Butuh Bantuan Usai Konflik Gaza -->

Mgid Bawah Bapenda

200 Ribu Warga Palestina Butuh Bantuan Usai Konflik Gaza

Kamis, 03 Juni 2021

  

WHO menyebut 200 ribu warga Palestina butuh bantuan kesehatan usai ketegangan antara Hamas dan tentara Israel beberapa waktu lalu. Ilustrasi. (REUTERS/MOHAMMED SALEM).

Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (2/6) kemarin menyebut 200 ribu masyarakat Palestina mengalami masalah kesehatan serius paska konflik berdarah antara Hamas dengan militer Israel yang terjadi usai Lebaran 2021 lalu.


Mereka memperingatkan masalah kesehatan serius itu harus segera ditangani.


"WHO meningkatkan tanggapannya untuk memberikan bantuan kesehatan bagi 200 ribu orang di seluruh Wilayah Palestina termasuk Tepi Barat. Situasinya bergejolak. WHO tetap prihatin dan meminta agar diberi akses tanpa hambatan untuk memasok bantuan kemanusiaan ke Gaza dan rujukan pasien keluar dari Gaza kapan pun diperlukan," kata kantor regional Mediterania Timur WHO dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari AFP, Kamis (3/6).


Ketegangan antara Israel dan Palestina meningkat menjadi baku tembak selama 11 hari menjelang Lebaran 2021 kemarin.


Pihak berwenang Palestina menyebut serangan Israel di daerah kantong itu menewaskan 254 warga mereka. Dari jumlah korban tewas itu 66 di antaranya merupakan anak-anak, serta beberapa pejuang.


Sementara dari sisi Israel, konflik telah merenggut 12 nyawa, termasuk satu anak, seorang remaja dan seorang tentara Israel.


"Lebih dari 77 ribu orang mengungsi dan sekitar 30 fasilitas kesehatan rusak akibat permusuhan itu," kata WHO.


Selain ketegangan dua belah pihak, kehidupan masyarakat Palestina belakangan ini juga memprihatinkan akibat pandemi covid-19. Badan kesehatan global itu mengatakan sampai Senin (31/5) 337.191 kasus covid-19 yang dikonfirmasi dengan 3.765 kematian.


"Kehidupan warga Palestina memburuk. Banyak orang yang terkena dampak konflik sangat membutuhkan bantuan dan menghadapi ancaman kesehatan lainnya seperti covid-19," kata WHO., Sebagaimana dikutip cnnindonesia.com. (*)