Rela tak Pulang Kampung, Demi Hambat Penyebaran Covid-19 -->

IKLAN ATAS

Rela tak Pulang Kampung, Demi Hambat Penyebaran Covid-19

Senin, 19 Juli 2021
ilustrasi (kompas.com)


Padang, fajarsumbar.com - Yanti dan Andri keluarga kecil ini rela tidak pulang kampung untuk menemui orangtuanya di Bukittinggi untuk menghambat penyebaran Covid-19. Apalagi di Sumatera Barat (Sumbar) kasus virus corona ini tiap hari terus meningkat.


Seiring Pemberlakuan Pembantasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diterapkan beberapa kabupaten/kota di Sumatera Barat karena berada di zona merah penyebaran Covid-19.


"Daahh... Maaa... tahun ini kami tidak pulang ya ma, karena ini demi kebaikan kita semua," ujar Yanti saat video calla sama orangtuanya yang berada di Bukittinggi melalui hand phone (HP), Senin (20/7/2021).


Bagi Yanti dan Andri yang bekerja di Kota Padang sebenarnya bisa saja pulang kampung, karena PPKM tidak begitu ketat diterapkan di setiap perbatasan. Tapi demi mendukung program pemerintah mereka rela tidak 'mudik lokal'.


Meski mereka sebenarnya rindu sama orangtuanya yang berada di kampung halaman. Sebenarnya mereka setiap Lebaran selalu menyempatkan diri pulang kampung, tapi karena ada penerapan PPKM demi menghambat lajunya penyebaran Covid-19, mereka pun memutuskan untuk tidak mudik.


"Maaf ya ma, kami tidak mudik Lebaran tahun ini, karena kami sangat sayang sama amak dan keluarga lainnya. Ini demi kebaikan kita bersama. Mudah-mudahan Covid-19 ini mereda, insya Allah kita berkumpul bersama lagi Lebaran tahun depan," sebut Yanti melalui hand phone yang disambung bersamaan dengan seluruh saudaranya berada di Padang.


Ungkapan yang sama juga dilontarkan Hamdi dengan keluarga kecilnya juga berada di Padang. "Kami sangat sayang sama ama, uda serta seluruh kemanakan di kampung, kami rela tidak pulang demi kebaikan kita bersama. Mari kita sama-sama mendoakan semoga Covid-19 ini cepat berlalu. Jangan lupa ya ma, selalu terapkan prokes, pakai masker, menjaga jarak, cuci tangan," tambah Hamdi.


"Iya nak, doakan saja ama ada sehat-sehat saja ya. Anak-anak ama jangan tinggalkan shalat lima waktu, puasa. Hati-hati di rantau orang ya nak," ujar Enimar orangtua perempuan dari keluarga tersebut. Sementara orangtua lelakinya sudah mendahului mereka sembilan tahun yang lalu. 


Sebenarnya Eminar ini sangat berharap setiap Lebaran Idul Adha anak-anaknya dapat pulang kampung setiap lebaran untuk berkumpul semua keluarga untuk melepas rindu. Tapi kali ini suasana jauh berbeda dari tahun sebelumnya sejak merebaknya Covid-19. 


Semuanya harus rela, sebab virus mematikan ini bukan datangnya dari manusia, tapi dari Sang Pencipta. Bagi umat manusia hanya berharap semoga ada hikmah positifnya dari semua musibah tersebut.


Sebenarnya mudik pada Idul Adha telah menjadi tradisi bagi warga di Sumatera Barat, bahkan warga seluruh Indonesia. Setiap tahun, para perantau berduyun-duyun pulang ke kampung halaman, melepas rindu dengan orang tua dan keluarga.


Tahun ini, pemerintah meminta perantau untuk menunda tradisi itu. Pandemi Covid-19 yang mewabah sejak tahun lalu jadi penyebabnya. Dari pengalaman terdahulu, grafik penularan Covid-19 melonjak pascalibur panjang dan Lebaran serta Lebaran Idul Adha.


Terlebih, tradisi mudik dekat dengan interaksi fisik seperti berjabat tangan atau berpelukan. Hal itu berpotensi jadi titik awal penularan virus tersebut.


Di tengah mewabahnya dan menekan lajunya penyebaran Covid-19 itu, pemerintah mengimbau warga untuk menunda mudik dan selalu #ingatpesanibu terkait penerapan protokol kesehatan. Sekalipun seseorang sudah menerima dua dosis vaksinasi, namun tetap diingatkan untuk memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak (3M), serta mengurangi mobilitas.


Atas imbauan dari pemerintah tersebut, Imra, Rita dan Roza yang berada di perantauan tidak mudik untuk Lebaran kali ini. "Do'a-kan saja kami sehat-sehat ya mak, insya Allah kita dapat kumpulkan lagi untuk Lebaran tahun depan. Amak juga jaga kesehatan ya. Sudah dulu ya ma, nanti kita sambung lagi. Daahh maaa...," ujar mereka serempak sambil melambaiakan tanganya di layar HP android tersebut.


Kasus positif dan sembuh terus bertambah

Kasus positif Covid-19 di Sumbar terus bertambah. Sementara kasus yang sembuh juga begitu. Sampai, Sabtu (17/7/2021) sebanyak 290 lagi pulih dari Covid-19. Hal ini membuat total kasus sembuh di provinsi ini melebihi 51 ribu orang.


Juru Bicara Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumbar Jasman Rizal merilis di situs resmi pemprov, angka kesembuhan hingga Sabtu itu tepatnya 51.268 orang. Jumlah ini 84,45 persen dari total kasus.

 

Sementara, total kasus Covid-19 dari awal pandemi hingga Sabtu mencapai 60.709. Hal ini setelah pada hari itu, kasus positif bertambah 637 orang dari 4.118 sampel swab yang diperiksa.


Sebanyak 370 kasus baru covid-19 bertambah di Kota Padang. Dengan adanya penambahan ini, maka total konfirmasi positif covid-19  mencapai 27.713 kasus.


Sedangkan kasus meninggal bertambah 11 orang. Jumlah ini membuat total kasus meninggal dunia jadi 1.331 orang atau 2,19 persen dari total kasus. Di luar kasus meninggal dan sembuh, kasus aktif mencapai 8.110 orang atau 13,36 persen dari kasus sejak awal.


Pada kesempatan itu Jasman Rizal kembali mengimbau warga agar selalu menerapkan protokol kesehatan (prokes) saat beraktivitas di luar rumah. Selalu menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan (3M) demi menghambat lajunya penyebaran virus Covid-19. (andri besman)