Harga Kapas Melonjak Naik -->

Harga Kapas Melonjak Naik

Selasa, 12 Oktober 2021

 

.

Jakarta - Harga kapas di pasar internasional naik ke kisaran US$1,16 per ton atau setara Rp16.472 per ton (kurs Rp14.200 per dolar AS) pada Jumat (8/10) lalu. Ini merupakan level tertinggi dalam 10 tahun terakhir, tepatnya sejak 7 Juli 2011.


Levi Strauss & Company, perusahaan jin mendunia asal Amerika menilai kenaikan harga kapas terjadi karena meningkatnya permintaan komoditas sejalan dengan pemulihan ekonomi di berbagai negara. Tapi di sisi lain, ada juga faktor pembatasan perdagangan kapas dari India, salah satu pengekspor kapas dunia kepada sejumlah negara mitra dagangnya.


Kendati begitu, CEO Levi Strauss Chip Bergh menilai kenaikan harga kapas yang terlalu signifikan pada saat ini berpotensi merusak industri. Sebab, sejumlah produsen tekstil, termasuk Levi, tidak serta merta mengerek harga produk mereka di tengah kenaikan harga kapas.


Hal ini dilakukan agar tidak mengurangi permintaan pasar dan masyarakat. Namun dampaknya, mereka harus menanggung biaya produksi yang lebih besar.


"Situasinya sangat berbeda hari ini. Kami tetap menggunakan harga (kapas) yang berlaku dalam 12 bulan terakhir dan kami bertahan. Kami mempertahankan harga yang sama di tengah tekanan inflasi kepada kami," ungkap Bergh seperti dilansir dari CNBC International, Selasa (12/10). Sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.


Selain faktor pulihnya permintaan global, harga kapas yang naik juga disinyalir terjadi karena cuaca ekstrem berupa kekeringan dan gelombang panas di sejumlah daerah di Amerika Serikat.


Padahal, negeri Paman Sam merupakan salah satu produsen kapas besar dunia dan mewajibkan China mengambil kapas dari mereka untuk diproduksi di negeri tirai bambu dan menjual kembali ke AS.


Lebih lanjut, kenaikan harga kapas akan mengganggu industri tekstil dan ritel, seperti penjualan kaos dan jin yang menggunakan kapas sebagai bahan baku dengan porsi mencapai 90 persen. Bergh mengatakan salah satu strategi yang dilakukan perusahaan adalah menggeser skema penjualan dari grosir ke eceran.


Ia melihat permintaan kaos dan jin yang masih tinggi di masyarakat memberikan potensi penjualan eceran yang lebih banyak dengan harga penuh. Kendati begitu, beberapa saham perusahaan pakaian terpukul di pasar modal akibat sentimen kenaikan harga kapas, seperti Ralph Lauren, Gap Inc., hingga Kontoor Brands yang memiliki merek dagang jin Wrangler dan Lee. (*)