![]() |
| Peserta Gerakan Masyarakat Adat Lestarikan Hutan Cegah Bencana Salingka Nagari (GEMA LENCANA) di Balai Adat Nagari Lasi, Minggu 18 Januari 2026 (foto.dok.as) |
Canduang - Upaya melawan bencana tak selalu lahir dari ruang rapat dan mimbar politik. Dari Balai Adat Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, sebuah gerakan akar rumput justru menggema lantang. Berangkat dari kearifan lokal dan kekuatan adat, masyarakat menyatukan langkah menjaga alam demi menyelamatkan masa depan.
Kegiatan itu bernama Gerakan Masyarakat Adat Lestarikan Hutan Cegah Bencana (GEMA LENCANA) Salingka Marapi, dicanangkan Minggu (18/1/2026). Digagas Ikatan Keluarga Ampek Angkek Tjanduang (IKAT) Kota Padang, GEMA LENCANA hadir sebagai ikhtiar kolektif merawat alam sekaligus menekan ancaman banjir dan galodo yang kerap menghantui kawasan sekitar Gunung Marapi.
Pencanangan gerakan ditandai dengan pemukulan gong oleh Ketua Kerukunan Keluarga Luhak Agam (KKLA) Kota Padang, Drs.Barlius, MM, sebagai simbol kebangkitan kembali peran adat dalam menjaga keseimbangan alam. Di momen itu, nilai tungku tigo sajarangan dan tali tigo sapilin kembali ditegaskan sebagai fondasi kehidupan nagari.
“Kalau masyarakat adat sudah bergerak dari akar rumput, pernyataan politis tak lagi berarti. Ini bukan omon-omon. Ini kerja nyata,” tegas Barlius yang juga Kepala BPKSDM Sumatera Barat.
Ia menargetkan gerakan ini menyatukan langkah 76 KAN di Agam, 6 KAN di Bukittinggi, hingga menjangkau 543 KAN se-Sumatera Barat.
Menurutnya, menjaga alam dengan menanam pohon produktif seperti petai, jengkol, dan durian bukan hanya menekan risiko bencana, tetapi juga memperkuat ekonomi rakyat. “Alam terjaga, musibah menjauh, kesejahteraan tumbuh,” ujarnya.
Gerakan ini mendapat dukungan luas. Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat, Dr. Ferdinal Asmin, menyebut GEMA LENCANA sebagai gerakan luar biasa yang menghidupkan kembali peran strategis niniak mamak.
“Sejak dahulu, keputusan adat menentukan arah kehidupan nagari. Hari ini, peran itu kembali hidup, terutama dalam pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar, Fuaddi. Ia mendorong tindak lanjut konkret melalui pembentukan Kampung Iklim di setiap nagari dengan dukungan lintas sektor, termasuk BUMN. “Ini contoh gerakan yang layak direplikasi di seluruh Sumatera Barat,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Agam pun menyatakan dukungan penuh. Mewakili Bupati Agam, Staf Ahli Dandi Pribadi menegaskan komitmen Pemkab mengawal gerakan masyarakat adat yang lahir dari anak nagari.
“Ini akan kami dorong diterapkan di seluruh Kerapatan Adat di Kabupaten Agam,” katanya.
Dari sisi adat, Ketua KAN Lasi, AKBP Dr. Jamalul Ihsan Dt. Sati menjelaskan bahwa gerakan ini telah diperkuat dengan keputusan hukum adat melalui Babuek Arek.
Sedikitnya 15 kesepakatan adat disepakati untuk diterapkan secara tegas di Nagari Lasi. Mulai dari larangan perambahan hutan, perburuan satwa tertentu, hingga kewajiban menanam pohon di bukit dan lembah.
Sanksi adat pun disiapkan bagi pelanggar, termasuk denda dan hukuman adat salingka nagari. Bahkan, kewajiban menanam pohon diberlakukan bagi murid baru sekolah dasar dan pasangan pengantin baru sebagai simbol tanggung jawab menjaga alam sejak dini. “Kami ingin menanam kesadaran, bukan sekadar pohon,” ujar Dt. Sati.
Ketua IKAT Kota Padang, Marjanis, mengungkapkan bahwa GEMA LENCANA berawal dari kegelisahan atas maraknya bencana di Sumatera Barat, khususnya di kawasan Marapi. Program berbasis kearifan lokal ini telah dijalankan di Nagari Lasi selama dua tahun terakhir dan terbukti mendapat respons positif masyarakat.
“Dari Lasi, kami ingin gerakan ini tumbuh di 10 nagari di Ampek Angkek dan Canduang. Alhamdulillah, sambutannya luar biasa,” ungkapnya haru.
Acara berlangsung khidmat dengan nuansa adat yang kental, diawali sambah manyambah. Juga dilakukan dialog yang dipimpin Aristo Munandar Dt.Bagindo Kayo, mantan Bupati Agam yang juga Ketua PMI Sumbar, antar pimpinan nagari.
Sehingga melahirkan kesepakatan bersama terkait inventarisasi potensi bencana, edukasi ke sekolah dan pesantren, hingga program tanam rimbo dan pembentukan parik paga di tiap nagari.
Puncak acara ditutup dengan makan bajamba, penyerahan bibit pohon oleh Dinas Kehutanan Sumbar, serta penanaman simbolis.
Ini sebuah penegasan bahwa menjaga alam bukan sekadar wacana, melainkan amanah bersama. Dari nagari, adat kembali bicara. Dari adat, alam kembali dijaga.(saco).
Komentar