![]() |
| . |
Konvensi internasional yang mengangkat tema Cross Cultural Understanding untuk mewujudkan "Harmony in Diversity" tersebut berlangsung pada 2--5 Agustus 2026 dan dipusatkan di Lotte Hotel Busan. Forum ini diikuti oleh 667 akademisi dari sekitar 300 perguruan tinggi yang berasal dari 30 negara di dunia.
Delegasi UNP dipimpin langsung oleh Wakil Rektor UNP Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Prof. Dr. Refnaldi, M. Litt, bersama Dr. Nofrion, M.Pd., selaku PIC Eurasia Foundation untuk UNP yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Inovasi Pembelajaran, PJJ, dan RPL, Direktorat Akademik UNP.
Prof. Refnaldi menjelaskan bahwa keikutsertaan UNP dalam konvensi internasional tersebut merupakan bagian dari keberhasilan UNP dalam memperoleh hibah serta menyelenggarakan kuliah umum internasional yang didukung Eurasia Foundation selama tiga tahun berturut-turut, sejak 2024 hingga 2026.
Dalam pelaksanaannya, UNP telah menghadirkan akademisi dan pembicara dari berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia, di antaranya University of Auckland, Hiroshima University, Kyungpook University, Osaka University, Royal University of Phnom Penh, dan Kadir Has University, Turkiye.
Kolaborasi antara UNP dan Eurasia Foundation juga semakin kuat dengan kunjungan langsung ke UNP oleh Presiden Eurasia Foundation, Prof. Sato Yoji, Peneliti Senior Eurasia, Prof. Chung Joon Kon, serta Representative Eurasia untuk Indonesia, Dr. Diani Risda, M.Ed.
Hingga saat ini, sekitar 300 mahasiswa UNP telah mengikuti rangkaian kuliah umum internasional tersebut.
Menurut Prof. Refnaldi, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk inovasi pembelajaran bertaraf global. Mahasiswa UNP memperoleh pengalaman belajar secara langsung bersama akademisi dari berbagai perguruan tinggi dunia dengan perspektif keilmuan yang beragam, khususnya dalam mengkaji isu Cross Cultural Understanding.
pSementara itu, Dr. Nofrion, M.Pd. menjelaskan bahwa Konvensi Internasional Eurasia Foundation 2026 di Busan terdiri atas sejumlah agenda utama, antara lain sesi presentasi dan diskusi.
Pada sesi presentasi, akademisi dari Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Ukraina, dan China menyampaikan berbagai gagasan mengenai Global Citizen Education serta aksi nyata dalam membangun masyarakat dunia yang damai.

Komentar