Kejati Sumbar Ajak Lulusan UNP Jaga Integritas, Berpikir Kritis dan Bijak Gunakan Teknologi -->

Iklan Atas

Kejati Sumbar Ajak Lulusan UNP Jaga Integritas, Berpikir Kritis dan Bijak Gunakan Teknologi

Senin, 28 September 2026


.

Padang  FajarSumbar.Com - Koordinator Bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat (Kejati Sumbar), Alexander Rudy, S.H., M.H., mengajak lulusan Universitas Negeri Padang (UNP) memasuki dunia pengabdian dengan tetap menjaga integritas, berpikir kritis, serta mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Pesan tersebut disampaikan Alexander Rudy dalam orasi ilmiah pada Wisuda ke-145 UNP Periode September 2026 hari pertama, Senin (28/9/2026).

Di hadapan 945 wisudawan dan wisudawati, Alexander Rudy mengangkat tema mengenai tantangan integritas, transformasi digital, dan penegakan hukum di tengah perkembangan teknologi.

Menurut Alexander Rudy, perguruan tinggi dan penegak hukum memiliki tujuan yang sama, yakni membangun manusia dan menjaga peradaban. Universitas membangun manusia melalui ilmu, sementara negara menjaga masyarakat melalui hukum. Keduanya, kata dia, bertemu pada satu titik, yaitu keadilan.

Ia mengingatkan para lulusan bahwa menghadapi Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya memiliki kecerdasan dan kompetensi.

Menurutnya, generasi muda harus memiliki karakter yang kuat agar mampu menjawab tantangan zaman.

"Pintar sekaligus berakhlak. Berani tetapi tidak sembrono. Modern tetapi tidak melupakan adat. Kompeten tetapi tidak arogan. Kritis tetapi tidak destruktif. Maju tetapi tetap menjunjung kemanusiaan."

Teknologi Membawa Peluang Sekaligus Risiko

Alexander Rudy mengatakan perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus risiko. Kehadiran artificial intelligence (AI), big data, algoritma, cloud computing, blockchain, media sosial, dan otomatisasi dapat mempercepat pekerjaan, tapi juga bisa mempercepat penyebaran informasi yang salah dan berbagai modus kejahatan.

Karena itu, dia menekankan pentingnya kemampuan memverifikasi informasi. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya terhubung dengan teknologi, tetapi juga harus mampu membedakan informasi, opini, propaganda, manipulasi, dan kebenaran.

"Di era digital ini yang palsu bisa terlihat nyata. Karena itu kebenaran harus diverifikasi, bukan sekadar dipercaya. AI boleh membantu manusia menemukan fakta. Tetapi tidak boleh mengambil alih tugas dan tanggung jawab manusia untuk menentukan keadilan."