![]() |
| Beginilah kondisi komplek kantor Bupati Solok pascagalodo, Senin (21/9/2026). (ist) |
Arosuka, fajarsumbar.com - Kopi masih tersisa di atas meja ketika suara gemuruh dari arah sungai tiba-tiba memecah suasana malam di kawasan Kompleks Perkantoran Bupati Solok, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (21/9/2026) malam.
Wartawan fajarsumbar.com, Defni Kelana Putra, yang malam itu sedang duduk santai bersama tiga orang temannya, tidak pernah menyangka bahwa beberapa detik kemudian dirinya harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan diri dari terjangan galodo.
Hujan deras yang mengguyur Arosuka sejak sore memang mulai mereda, tetapi ancaman justru datang ketika warga mulai mengira keadaan sudah kembali normal.
Defni yang akrab disapa Def mengaku awalnya tidak menyangka suara gemuruh tersebut merupakan pertanda datangnya banjir bandang.
Ia kemudian berdiri dan melihat ke arah sungai. Pemandangan yang terlihat membuat perasaannya seketika berubah. Air sungai tampak hitam pekat dan bergerak deras, berbeda dari kondisi aliran air sebelumnya.
Dalam sekejap, nalurinya mengatakan ada bahaya besar yang sedang bergerak menuju kawasan tempat mereka berada.
“Saya dengar ada suara agak aneh dari sungai, ada kedengaran gemuruh. Saya lihat keluar, ternyata air sudah hitam pekat. Saya langsung lari dan berteriak kepada teman-teman, ‘Galodo!’,” ujar Defni saat menceritakan kembali kejadian tersebut, Rabu (23/9/2026).
Tidak ada waktu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Defni langsung menuju sepeda motornya dan meninggalkan kedai bersama kepanikan yang mulai melanda kawasan tersebut. Bahkan dalam kondisi terburu-buru itu, ia tidak menyadari telepon genggam dan rokoknya masih tertinggal di atas meja.
Bagi Defni, malam itu tidak ada lagi yang lebih penting daripada keluarganya. Ia hanya memikirkan anak dan istrinya yang berada di rumah. Sepeda motor langsung dipacu meninggalkan kawasan kompleks perkantoran, sementara listrik mulai padam dan jaringan telepon seluler ikut menghilang.
Dalam suasana gelap, ia harus memperhitungkan setiap jalan yang dilalui karena sewaktu-waktu arus air bah bisa saja datang dari arah yang tidak terlihat. “Saya hanya teringat anak dan istri di rumah. Saya terus gas motor agar cepat sampai ke rumah,” tuturnya.
Perjalanan menuju rumah menjadi bagian paling menegangkan bagi Defni. Ada satu titik berupa jalan menurun yang harus dilewatinya untuk sampai ke rumah.
Di tengah kondisi gelap dan ancaman galodo, ia sempat khawatir arus air akan lebih dahulu menghantam jalan tersebut. Namun ia tetap mengambil keputusan untuk melewatinya, sebab itulah satu-satunya jalan menuju ke rumahnya. Sepeda motor terus dipacu hingga akhirnya ia berhasil melalui lokasi itu.
Seolah belum cukup membuatnya merinding, tidak lama setelah dirinya berhasil melewati titik tersebut, arus galodo yang membawa batu, lumpur dan material lainnya menerjang kawasan tersebut. “Kalau saya terlambat sedikit saja, mungkin saya pula yang dihanyutkan dan bakal dicari tim SAR,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Defni, peristiwa tersebut merupakan pengalaman yang sangat dekat dengan maut. Ia menyadari betapa tipis jarak antara selamat dan menjadi korban dalam bencana yang datang begitu cepat.
Def kemudian melanjutkan perjalanan dengan satu tujuan, yakni segera sampai ke rumah dan memastikan anak serta istrinya dalam keadaan aman dan selamat. Namun ketika tiba di rumah, kecemasan Defni justru semakin menjadi-jadi. Rumah dalam keadaan kosong. Ia tidak menemukan anak maupun istrinya.
Dalam kondisi listrik padam dan suasana yang masih mencekam, Defni mulai memanggil keduanya. Berkali-kali ia bersorak memanggil nama anak dan istrinya, tetapi tidak mendapat jawaban.
Sebagai seorang ayah dan suami, pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi setelah galodo menerjang Arosuka. “Di saat itu saya bercampur haru dan galau. Saya cuma bisa berdoa, ‘Ya Allah, selamatkan anak dan istriku’,” ujarnya.
Defni kemudian mencari ke sejumlah tempat sambil terus memanggil keluarganya. Di luar rumah, suasana masih jauh dari tenang. Suara warga, kendaraan petugas dan kabar tentang galodo bercampur dengan kegelapan malam.
Dalam keadaan seperti itu, waktu terasa berjalan sangat lambat bagi seorang kepala keluarga yang belum mengetahui keberadaan anak dan istrinya.
Doa itu akhirnya menemukan jawaban. Anak dan istrinya ditemukan dalam keadaan selamat. Keduanya ternyata juga sedang mencari Defni karena khawatir dirinya tersapu galodo yang menerjang kawasan Arosuka dengan sangat dahsyat.
Wajah pucat dan kecemasan masih terlihat setelah mereka kembali bertemu. Tidak ada yang lebih penting malam itu selain memastikan seluruh anggota keluarga masih lengkap. “Alhamdulillah kami dan sekeluarga selamat,” kata Defni dengan nada penuh syukur.
Galodo Arosuka malam itu memang meninggalkan kerusakan di sejumlah kawasan. Lumpur, batu, kayu dan material longsor menerjang permukiman serta kompleks perkantoran pemerintah. Sejumlah fasilitas pemerintahan dan kendaraan terdampak, sementara warga harus mengungsi dan petugas gabungan melakukan evakuasi serta penanganan di berbagai titik.
Di tengah situasi tersebut, data korban dan kerusakan terus dihimpun oleh petugas untuk mengetahui dampak sebenarnya dari bencana yang datang begitu cepat.
Bagi Defni, malam 21 September 2026 akan menjadi bagian yang tidak mudah dihapus dari ingatannya. Sebagai wartawan, ia terbiasa berada di tengah peristiwa dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Tetapi malam itu, sebelum memikirkan berita, kamera, telepon genggam ataupun pekerjaannya, ia terlebih dahulu menjadi seorang ayah dan suami yang ingin memastikan keluarganya selamat.
Ia pulang menembus gelap, melewati jalan yang sewaktu-waktu bisa disapu air bah, hanya dengan satu pikiran yang terus berputar di kepalanya, anak dan istrinya.(*)
Komentar