![]() |
| Wabup Rahmat Hidayat Terima penghargaan Peringkat Pertama TPID Teresponsif Tingkat Sumbar Triwulan II tahun 2026 di Padang, Kamis 17 September 2026 (foto.ikp) |
Padang - Bukan sekadar penghargaan, capaian ini menjadi tamparan sekaligus pembuktian bahwa di tengah ancaman gejolak harga kebutuhan pokok, Kabupaten Padang Pariaman justru tampil sebagai tim pengendali inflasi paling responsif di Sumatera Barat.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Padang Pariaman meraih peringkat pertama kategori Tim Pengendalian Inflasi Teresponsif berdasarkan evaluasi program Triwulan II 2026.
Yang membuat capaian itu mencolok adalah angka 95 kegiatan pengendalian inflasi selama periode evaluasi. Angka tersebut menggambarkan intensitas gerak TPID dalam memantau dinamika harga. Menjaga pasokan, memperlancar distribusi, dan merespons potensi gejolak yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Pengakuan itu diberikan dalam High Level Meeting (HLM) TPID se-Sumatera Barat Triwulan III 2026 di Auditorium Anggun Nan Tongga Bank Indonesia, Kamis (17/9/2026).
Penghargaan diserahkan Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Sumatera Barat, Yozarwardi Usama Putera, dan diterima Wakil Bupati (Wabup) Rahmat Hidayat.
Namun di balik trofi dan predikat juara, ada persoalan yang jauh lebih besar. Yakni harga pangan bukan sekadar angka di pasar. Melainkan menyentuh langsung isi dompet dan meja makan masyarakat.
Wabup Rahmat menegaskan penghargaan tersebut bukan garis finis. Stabilitas harga dan daya beli masyarakat harus menjadi sasaran utama.
“Ini bukan keberhasilan satu pihak. Tetapi buah dari koordinasi, kolaborasi dan kecepatan kita dalam merespons berbagai dinamika yang terjadi di masyarakat,” ujar Rahmat, sembari menekankan pentingnya memastikan pasokan tersedia, distribusi lancar, dan gejolak harga dapat direspons cepat.
Kerja pengendalian inflasi, menurut dia, tidak mungkin dilakukan sendirian. Pemerintah daerah harus memperkuat sinergi dengan Bank Indonesia, BPS, Bulog, BMKG, instansi vertikal, OPD hingga pelaku usaha.
Data yang akurat, pasokan yang terjaga, distribusi yang lancar dan komunikasi publik menjadi mata rantai yang menentukan. Apakah tekanan harga dapat dikendalikan atau justru membebani masyarakat.
Predikat teresponsif kini berubah menjadi tantangan baru. Rahmat meminta capaian 95 kegiatan tidak berhenti sebagai statistik dan penghargaan tidak sekadar menjadi pajangan.
“Target kita bukan sekadar mendapatkan penghargaan. Tetapi bagaimana setiap langkah yang dilakukan TPID benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegas Wabup Rahmat
Ukuran keberhasilan pengendalian inflasi bukanlah piala. Melainkan harga yang tetap terjangkau dan daya beli rakyat yang tetap bertahan.(saco).
Komentar