Ini Penjelasan Soal Kutbah Jumat Berbahasa Arab di Masjid Syathariyah -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Ini Penjelasan Soal Kutbah Jumat Berbahasa Arab di Masjid Syathariyah

Jumat, 30 April 2021
Masjid Syatariyah Padang Panjang di Kelurahan Balai-balai.


Padang Panjang, fajarsumbar.com - Kitab Irsyadul Ibad bab khutbah, serta hadist Rasulullah Muhammad SAW  menyampaikan: "panjangkan salat kamu dan pendekkan kutbah" (riwayat Bukhari  Muslim).


Inilah yang menjadi salah satu dasar kutbah Jumat yang ringkas berbahasa Arab di Masjid Syathariyah, Kelurahan Balai-balai,  Kecamatan Padang Panjang Barat. 


Syamsul Bahri Tuanku Sidi,  (67) didampingi Ustad Mukhtar Labai Malano (61) menjelaskan, apa yang dijalankan di Masjid Syathariyah  memiliki hukum fiqih.


"Masih banyak lagi dasar hukum fiqih khutbah Jumat berbahasa Arab. Yang jelas rukun kutbah iyalah memuji Allah, sahadat, salawat, wasiat taqwa dan kemudian katib duduk sejenak dan dilanjutkan kutbah kedua dengan membaca ayat Alquran serta doa.


Syamsul menjelaskan pandangan jamaah Tarekat Syathariyah itu Jumat (30/4). Lalu kenapa berbeda dengan di masjid lainnya yang menggunakan bahasa Indonesia saat berkhutbah?


Menurutnya, bila dicampur dengan bahasa lain, kutbah akan melebar kemana-mana. "Kutbah Jumat itu pengganti dua rakaat pada salat Zuhur," jelasnya.


Kendati begitu ada tausiyah sebelum khatib naik mimbar. "Semua orang butuh ilmu pengetahuan agama. Jadi sebelum itu kita memberikan tausiyah," sebutnya.


Urutan bila Jumatan di Masjid Syathariyah, azan pertama, para jamaah diberi kesempatan salat sunat dua rakaat. Setelah itu pengurus memberikan laporan masjid diiringi tausiyah dari ustadz. Lalu katib naik mimbar, azan Jumat. Katib membaca kutbah dan iqamah untuk selanjutnya menunaikan Salat Jumat.


Masjid Syathariyah  Padang Panjang dibangun tahun 1975. Tergerak dari pengikut tarekat Syatariyah dari Batipuah X Koto yang ingin menjalankan syariat berdasarkan ilmu yang mereka pahami. 


"Tanah lokasi bangunan masjid dibeli  dari H. Sidi Amin. Tanah masjid itu dahulu berupa rawa. Peletakan batu pertama dilakukn oleh Ketua DPP Jamaah Tarekat Syatariyah, Buya H. Tuanku Mudo Ismail dan didukung Dandim 0307/Tanah Datar waktu itu," jelas Syamsul.


Syamsul menyampaikan agar saling menghargai bila terjadi perbedaan pandangan. 


"Inilah ilmu fiqih yang kami pelajari dan yakini. Yang paling utama kita saling menjaga ukhuwah Islamiah. Jangan jadikan perbedaan pandangan membuat perselisihan," tuturnya. (*/syam)




adsen