Walinagari Ajak Petani Terapkan Pola Menanam -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Walinagari Ajak Petani Terapkan Pola Menanam

Selasa, 27 April 2021


Walinagari Koto Tinggi, Baso, Geginda Pakiah Pamuncak, memperlihatkan pola tanam tumpang sari, karena dinilai lebih menguntungkan dalam menggenjot ekonomi keluarga petani. (ist)









Agam - Walinagari Koto Tinggi Kecamatan Baso, Agam, Geginda Pakiah Pamuncak mengajak petani di wilayahnya agar menerapkan sistem pola tanaman tumpang sari dengan konsep pengembangan kawasan hortikultura, karena diyakini mampu meningkat kan ekonomi masyarakat tani.


Di lahan pertanian miliknya di Koto Tinggi, Minggu (25/4) dia menjelaskan, dengan sistem pola tanam tumpang sari manfaatnya seperti cuki duo nokang, artinya panen tidak hanya satu komoditi. 

“Misal nya, panen sayur caisin (sayur manis) dengan umur pendek bisa untuk biaya operasional, pupuk, mulsa, dan racun, sedangkan panen, tomat dan cabai dapat menutupi biaya mengolah lahan dan bibit. Sisanya untuk biaya hidup serta dapat ditabungkan. Pengembangan pola tanam hortikultura bisa ditata sedemikian rupa, agar mampu menjawab tantangan dan peluang mengisi permintaan pasar,” kata Geginda Pakiah Pamuncak.


Sementara, Irwandra Mak Dang Sikumbang, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Saiyo Sarasaki Koto Gadang Kecamatan Baso membenarkan, dengan penerapan pola tanam tumpang sari hortikultura cukup mengasyikkan. Sebab dalam satu bidang garapan (lahan) pertanian dapat dipanen tiga komoditi, seperti tanaman sayur caisin (sayur manis), tomat dan cabai panennya secara bergilir.


Koto Tinggi dan Nagari Persiapan Koto Gadang merupakan salah satu nagari di Kecamatan Baso, terletak di lereng Gunung Marapi berhawa sejuk. Masyarakat di dua nagari itu pada umumnya bekerja sebagai petani horti kultura dan kebun jeruk. 

“Sebetulnya, jika satu lahan kita menanam satu jenis komoditi hortikultura maka panennya satu jenis tanaman, sekiranya diterapkan sistem pola tumpang sari. Panennya dapat dilakukan secara bergilir, sesuai jenis tanaman yang kita  tanam,” ujar Irwandra.


Sebetulnya, anggota KUBE Saiyo Sarasaki Koto Gadang, sudah menjadi kebiasaan melakukan pola tanam tumpang sari,  karena setelah dilaku kan banyak keuntungan dengan pola tanam ini. Disamping hasil panen me muaskan juga mengurangi pestisida, ka rena hama tanaman lebih rendah. (*)



adsen