Penerimaan Negara Kuartal I-2024 Turun 7,1% Meski Capai Rp1.123,5 Triliun -->

Iklan Atas

Penerimaan Negara Kuartal I-2024 Turun 7,1% Meski Capai Rp1.123,5 Triliun

Jumat, 28 Juni 2024

Menteri Keuangan Sri Mulyani. 


Jakarta - Penerimaan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menurun pada kuartal I-2024. Hingga Mei, total penerimaan negara mencapai Rp1.123,5 triliun.


Jumlah ini turun 7,1% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun 2023, yang mencapai Rp1.209 triliun.


Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa realisasi tersebut setara dengan 40,1% dari target dalam APBN 2024.


“Ini berarti kita telah mencapai 40,1% dari target APBN tahun ini. Meskipun pencapaian ini pada bulan Mei terlihat cukup baik, dibandingkan dengan tahun lalu pada bulan yang sama, terjadi penurunan sebesar 7,1% year on year," ujar Sri Mulyani saat Konferensi Pers APBN KiTa, Kamis (27/6/2024).


Penurunan pendapatan negara awal tahun ini disebabkan oleh penurunan tajam harga sejumlah komoditas. Hal ini berdampak pada penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang juga ikut menurun.


Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menilai bahwa penurunan penerimaan negara harus terus dipantau dan diwaspadai.


Pemerintah mencatatkan PNBP sebesar Rp251,4 triliun atau setara 51% dari target APBN 2024. Meskipun demikian, penerimaan ini turun 3,3% dari realisasi Mei 2023.


“Untuk kinerja PNBP yang mencapai Rp251,4 triliun, artinya 51% dari target APBN tahun ini sudah terkumpul. Jika dilihat dari sisi pertumbuhan, terjadi penurunan sebesar 3,3%. PNBP dalam 2 tahun terakhir dipengaruhi oleh SDA non-migas dan SDA secara keseluruhan,” ucapnya.


“Dari SDA migas, Rp46 triliun atau 41,8% dari target telah terkumpul. Namun, dibandingkan tahun lalu, ini mengalami kontraksi sebesar 9,9%. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan lifting minyak dan gas. Sementara itu, dari SDA non-migas, Rp49,7 triliun atau 50,9% dari target kita, mengalami kontraksi dalam sebesar 27,3% dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp68,3 triliun,” jelas Sri Mulyani.(BY)