Mitos Telur Penyu Masih Hidup, Warga Diminta Berhenti Mengonsumsi -->

Iklan Atas

Mitos Telur Penyu Masih Hidup, Warga Diminta Berhenti Mengonsumsi

Kamis, 21 Agustus 2025
Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy melihat penyu


Pariaman – Pemprov Sumatera Barat (Sumbar) menyoroti masih adanya sebagian masyarakat yang mengonsumsi telur penyu, lantaran percaya mitos bahwa telur hewan laut yang dilindungi ini bermanfaat untuk kesehatan.

Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, menegaskan bahwa secara medis, telur penyu tidak baik dikonsumsi. “Lebih sehat mengonsumsi telur ayam, itik, atau jenis telur lainnya,” katanya saat meninjau UPTD Penangkaran Penyu di Kota Pariaman, Selasa (19/8/2025). Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi mempercayai mitos yang tidak berdasar, sekaligus mendorong dukungan publik terhadap upaya konservasi penyu yang dilakukan pemerintah melalui UPTD di sejumlah lokasi pesisir Sumbar.

Vasko menambahkan, apabila warga menemukan telur penyu di pantai, sebaiknya diserahkan ke penangkaran. “Di sana telur-telur akan ditetaskan, dan tukik (anak penyu) dilepas kembali ke laut,” ujarnya. Selain itu, konservasi penyu di Pariaman juga membuka kesempatan edukasi bagi publik. Pengunjung, termasuk pelajar dan mahasiswa, bisa belajar langsung tentang penyu dan terlibat dalam proses pelepasan tukik ke laut.

Meski demikian, kondisi fasilitas penangkaran masih membutuhkan perhatian. Vasko mengakui sebagian atap bangunan mulai keropos, namun belum menjadi prioritas karena sebagian besar bangunan masih layak digunakan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Reti Wafda, mengatakan meski konsumsi telur penyu masih terjadi, pemerintah lebih menekankan pendekatan pembinaan daripada penindakan hukum. “Warga yang melanggar tetap diberikan pembinaan agar kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian penyu semakin meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Konservasi dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan DKP Sumbar, Wandi Afrizal, menyebut pihaknya memberikan kompensasi berupa uang transportasi bagi warga yang menyerahkan telur penyu ke penangkaran. “Kami memberikan Rp3.150 per butir, khusus untuk telur yang diambil dari lokasi rawan atau yang berpotensi mengancam kelestarian penyu,” jelasnya.

Wali Kota Pariaman, Yota Balad, turut mengimbau warganya agar menghentikan konsumsi telur penyu. “Sosialisasi terus kami lakukan, termasuk meminta warga menjual telur penyu ke penangkaran, bukan untuk dikonsumsi,” katanya.(des*)