![]() |
| Bendungan Irigasi Lubuak Sikoci, Ladang Laweh Nagari Sicincin, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkungan, ikut jebol diterjang banjir (foto.tangkapanlayar.sa) |
Padang Pariaman - Hujan tanpa jeda sejak Sabtu pagi hingga Selasa (22–25/11/2025) mengubah Padang Pariaman menjadi kepingan-kepingan luka. Dalam empat hari, bumi berguncang oleh banjir besar, tanah longsor, angin kencang, dan luapan sungai yang tak lagi mampu menahan amarah alam.
Sementara itu, pihak Badan Metrologi Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) bahkan mengeluarkan peringatan dini, tetapi intensitas hujan yang mengguyur sejak pukul 08.00 WIB, Sabtu, seakan tak memberi ruang jeda bagi masyarakat
Data yang diperoleh fajarsumbar.com bahwa wilayah terkena musibah bencana alam di bumi "kaghambia laweh" ini pada 17 kecamatan di 56 nagari terdampak, 26 titik banjir, 16 titik longsor, 14 titik pohon tumbang, ketinggian air mencapai kisaran 30–150 cm. Situasi masih hujan menjadikannya salah satu bencana terluas dalam beberapa tahun terakhir.
Lantas sungai-sungai besar seperti Batang Anai, Batang Ulakan, Batang Tapakih, Batang Kamumuan. Kesemua meluap bersamaan. Debit air melonjak, tanah labil bergeser, pepohonan tumbang, dan gelombang kepanikan menyapu warga yang berlarian menyelamatkan diri.
Lagi menyebabkan debit air yang terus naik membuat banjir merendam 3.326 unit rumah. Ribuan jiwa terjebak, sebagian besar kehilangan harta benda dalam hitungan jam.
Kawasan paling parah terjadi di Ulakan Tapakih: Tapakih (1.115 rumah), Ulakan (410 rumah), Sungai Gimba (257 rumah), Kampuang Galapuang (170 rumah). Batang Anai: Kasang (192 rumah), Sungai Buluah Barat (135 rumah). Lubuk Alung (220) rumah terendam.
Di beberapa lokasi, warga tak sempat menyelamatkan apa pun. Tercatat 13 rumah hanyut sepenuhnya, digulung arus yang berubah menjadi monster.
Setidaknya ada 16 titik longsor memutus akses vital antar-nagari. Jalan menuju RSUD Padang Pariaman amblas, rabat beton di Pasa Limau runtuh, dan sejumlah badan jalan di Anduriang, Sikucua Barat, hingga Lurah Ampalu tertimbun material.
Bangunan SDN 10 Batang Gasan rusak parah terkena runtuhan bukit. Anak-anak kehilangan ruang belajar, di tengah bencana yang membuat masa depan mereka ikut terancam.
Di tengah kepungan banjir dan longsor, angin kencang merobohkan pepohonan, merusak atap rumah warga, dan memperparah kerusakan. Di beberapa nagari, seperti Tapakih, Seulayat Ulakan, Kuranji Hilia, hingga Katapiang, warga terpaksa mengungsi karena rumah tak lagi layak huni.
Satu peristiwa serius terjadi di Korong Kampuang Guci, Nagari Lubuk Pandan, ketika sebuah pohon tumbang menimpa rumah warga, menyebabkan dua orang luka-luka.
Diperkirakan sebanyak 327 jiwa mengungsi, terdiri dari 11 ibu hamil, 104 lansia, 50 balita, 162 dewasa. Sehingga total warga terdampak mencapai lebih dari 10 ribu jiwa, dan jumlah itu masih bergerak seiring pendataan.
Di Ulakan Tapakih, ribuan warga tersebar di pos-pos pengungsian seperti Padang Pauh, Kabun Bungo Pasang, Kampuang Koto, hingga tenda-tenda darurat dekat rumah ibadah.
Kerugian material ditaksir mencapai Rp 4,89 miliar (data sementara) dan ada 2 (dua) jembatan rusak, Bendungan Lubuak Sekoci hancur, 2 (dua) saluran irigasi putus. Disamping itu, erosi hebat di berbagai nagari, mengancam rumah-rumah yang kini tinggal lima meter dari bibir sungai
Juga terjadi tanah longsor menyebabkan 2 jalan amblas dengan 4 titik jalan tertimbun material, talud jebol, jalan tani tergerus puluhan meter
Di Nagari Anduriang, erosi sepanjang 250 meter telah menelan sawah dan kebun warga, mengancam rumah-rumah di pinggir sungai. Di Katapiang, dua rumah bahkan telah jatuh ke dalam sungai.
Lantas, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menetapkan "Status Tanggap Darurat" selama 14 hari (23 November–6 Desember 2025).
Langkah-langkah cepat dilakukan adalah BPBD dengan dukungan TRC BPBD melakukan evakuasi warga terjebak banjir, Pendataan 24 jam nonstop, Pos kesehatan dibuka di berbagai titik, Dapur umum berdiri di Galapuang, Manggopoh Palak Gadang, Sandi Ulakan, Kasai, Ulakan, dan Batang Anai
Lokasi pengungsian dibuka di surau, rumah warga, perumahan, hingga tenda darurat. Sementara itu, evakuasi pohon tumbang dan pembukaan akses jalan terus dilakukan
Untuk penanganan ini melibatkan lebih dari 20 instansi dan lembaga, termasuk Basarnas, TNI-Polri, Dinas PUPR, Dinas Sosial, TP-PKK, relawan, hingga komunitas rafting, dikerahkan untuk stabilisasi keadaan.
Namun kondisi di lapangan masih sulit. Hujan belum mereda. Sehingga sat ini, korban membutuhkan seperti Alat berat, Sembako, Family kit, Selimut, Pakaian, Makanan siap saji, Obat-obatan, dan Dapur umum tambahan
Ribuan warga masih bertahan di posko, sebagian hanya beralaskan tikar, sebagian belum makan layak, dan sebagian masih menatap rumahnya dari jauh ditelan air, lumpur, atau tepi sungai yang runtuh.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Emri Nurman yang dihubungi fajarsumbar.com, Rabu pagi (26/11/2025) menyatakan bahwa data terdampak bencana alam banjir dan tanah longsor tersebut akan terus diperbarui, sesuai dengan laporan masuk dari petugas di lapangan.
Padang Pariaman kini berada dalam fase darurat terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Ribuan warga berharap satu hal. Cuaca segera bersahabat dan bantuan cepat sampai.(saco).
Komentar