Canduang Agam - Di bawah kaki Gunuang Marapi, sejumlah ninik mamak, Angku Nagari, serta Parik Paga Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, turun langsung ke rimba dalam giat adat bertajuk "Manyilau Rimbo", Minggu kemaren, 25 Januari 2026.
Kegiatan ini bukan seremoni, melainkan langkah konkret masyarakat adat menjaga batas ulayat sekaligus menghadang ancaman bencana.
Dipimpin Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lasi, Jamalul Ihsan Dt.Sati, rombongan menyusuri "Labuah Pancang". Jalan setapak yang menjadi tando bateh kampuang jo rimbo, serta pemisah ulayat kaum dengan ulayat nagari.
Jalur tersebut diketahui mulai tertutup belukar dan terhalang batang kayu tumbang, kondisi yang dinilai berisiko bila dibiarkan.
"Manyilau Rimbo" tersebut dilakukan untuk memastikan batas wilayah tetap jelas secara faktual di lapangan," kata Ketua KAN Lasi, Jamalul Ihsan Dt.Sati, kepada fajarsumbar.com, ketika dihubungi, Senin (26/1/2026).
Ia menegaskan, kaburnya batas ulayat bukan hanya soal adat, tetapi juga berpotensi memicu konflik lahan dan kerusakan lingkungan yang berdampak luas bagi nagari.
Selain menelusuri batas, tim juga melakukan pengecekan terhadap lahan yang pohon kayunya tumbang, kosong, atau terdampak longsor. Di titik-titik rawan itu, dilakukan penanaman kembali pohon kayu tua jenis Ikat Padang yang dikenal kuat dan mampu menahan aliran air saat hujan lebat.
Jamalul Ihsan mengingatkan, Nagari Lasi memiliki sejarah kelam bencana galodo besar pada tahun 1986 yang sempat merenggut nyawa. Trauma kolektif itulah yang mendorong masyarakat adat bergerak lebih dini, agar air bah tidak kembali meluncur deras dari hulu Marapi ke permukiman.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program Gerakan Masyarakat Adat Lestarikan Hutan Cegah Bencana (GEMA LENCANA) Salingka Marapi yang dicanangkan dua pekan sebelumnya. Filosofinya berpijak pada kearifan lokal Minangkabau, Alam Takambang Jadi Guru, yang memandang hutan sebagai penyangga kehidupan, bukan sekadar sumber ekonomi.
Giat "Manyilau Rimbo" diikuti Ketua dan Pengurus KAN, para Angku Nagari seperti Yusril Dt. Rangkayo Basa, Amyus Angku Lasuang Tujuah, Edwar Angku Bijo Sianso, Ajuad Gindo Basa, serta Dr. Ulya Ilhami Putra Arsyah Bagindo Rajo Arih, bersama Parik Paga Nagari. Bagi mereka, menjaga rimba berarti menjaga nagari. Sebelum alam kembali memberi peringatan keras.(saco).
Komentar