Ketika Media Sosial Menjadi Cermin Perbandingan -->

AdSense New

Ketika Media Sosial Menjadi Cermin Perbandingan

Selasa, 13 Januari 2026
Ketika Media Sosial Menjadi Cermin Perbandingan
 Ketika Media Sosial Menjadi Cermin Perbandingan


DI ERA media sosial saat ini, hidup kerap terasa terburu-buru. Waktu berjalan cepat, tren datang dan pergi, dan setiap orang seolah dituntut untuk selalu update, produktif, serta terlihat “baik-baik saja”. Bagi Generasi Z, media sosial bukan sekadar sarana hiburan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—ruang untuk berekspresi, mencari validasi, sekaligus membandingkan diri dengan orang lain.


Dalam perspektif Uses and Gratifications Theory, Gen Z memanfaatkan media sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari pencarian identitas diri, afiliasi sosial, hingga kebutuhan akan pengakuan. Namun, ketika intensitas penggunaan tidak lagi terkontrol, media sosial justru berpotensi berubah menjadi sumber tekanan psikologis.


Tanpa disadari, banyak pengguna terjebak dalam arus perbandingan tersebut. Kehidupan pribadi kerap diukur melalui potongan hidup orang lain yang tampak sempurna di layar gawai. Pencapaian teman, body goals, relationship goals, hingga standar hidup ala TikTok hadir silih berganti di linimasa. Fenomena ini sejalan dengan Social Comparison Theory yang dikemukakan Leon Festinger, yang menjelaskan bahwa individu cenderung menilai dirinya melalui perbandingan dengan orang lain.


Masalahnya, perbandingan tersebut jarang bersandar pada realitas yang utuh. Apa yang tampil di media sosial umumnya telah melalui proses kurasi, hanya menampilkan sisi terbaik dan paling layak konsumsi publik. Dari sinilah rasa lelah, tidak aman (insecure), hingga kehilangan arah perlahan muncul, terutama ketika individu merasa hidupnya tertinggal dari standar yang terus diproduksi media sosial.


Pada titik inilah, belajar menepi menjadi penting. Menepi bukan berarti menyerah, kalah, atau antisosial. Menepi adalah keberanian untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perbandingan. Dalam konteks komunikasi intrapersonal, menepi memberi ruang bagi dialog dengan diri sendiri—berpikir, merefleksi, dan bertanya secara jujur: ke mana sebenarnya arah hidup ingin dituju. Berhenti sejenak justru membantu individu membangun makna, bukan sekadar mengikuti arus.


Di tengah kebisingan notifikasi dan tuntutan standar sosial, menepi juga mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu dipamerkan. Tidak semua proses perlu diunggah, dan tidak setiap pencapaian harus diumumkan. Hal ini berkaitan dengan Teori Self-Presentation dari Erving Goffman, yang memandang media sosial sebagai “panggung depan” tempat individu menampilkan citra ideal. Menepi berarti berani keluar dari panggung tersebut dan kembali ke “ruang belakang”, tempat seseorang dapat menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan penilaian publik.


Tekanan Media Sosial pada Gen Z

Media sosial kerap membentuk standar hidup yang seragam: harus sukses di usia muda, harus glow up, dan harus produktif setiap hari. Padahal, setiap individu memiliki waktu, ritme, dan jalannya masing-masing. Namun, algoritma media sosial—dalam kerangka Agenda Setting—lebih sering menampilkan hasil akhir ketimbang proses jatuh bangun di baliknya. Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal, padahal sejatinya hanya sedang berada pada fase hidup yang berbeda.


Menjadi diri sendiri bukan tujuan instan, melainkan proses panjang. Ada masa maju, ada pula saat mundur, dan itu adalah bagian wajar dari perjalanan hidup. Hidup bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan perjalanan untuk memahami diri secara utuh.


Pelan-Pelan Menjadi Diri Sendiri

Belajar menepi memberi kesempatan untuk kembali mengenali diri sendiri: apa yang benar-benar disukai, bukan sekadar apa yang sedang tren; apa yang memberi kenyamanan, bukan yang paling banyak mendapat likes. Proses ini berkaitan dengan pembentukan identitas dalam Teori Identitas Sosial, di mana individu perlu menyeimbangkan pengaruh lingkungan sosial dengan jati diri personal.


Menepi sebagai Bentuk Self-Care

Di era serba cepat, bergerak pelan justru dapat menjadi bentuk perlawanan. Menjaga batasan dengan media sosial, mengurangi konsumsi konten yang melelahkan mental, serta memilih fokus pada hal-hal yang bermakna merupakan praktik self-care dalam komunikasi. Menepi juga bisa berarti lebih hadir di dunia nyata: berbicara dengan diri sendiri, menulis, berjalan tanpa tujuan, atau sekadar diam tanpa rasa bersalah.


Penutup

Belajar menepi adalah memberi izin pada diri sendiri untuk tidak selalu kuat, tidak selalu sempurna, dan tidak selalu mengikuti arus. Dalam konteks komunikasi, menepi menjadi cara untuk merebut kembali kendali atas makna hidup yang kerap dibentuk oleh media. Di tengah derasnya arus media sosial yang dihadapi Gen Z, menjadi diri sendiri memang tidak mudah, tetapi selalu mungkin.


Pelan-pelan saja. Tidak semua orang harus sampai di waktu yang sama. Yang terpenting, kita tidak kehilangan diri sendiri di tengah perjalanan.

(David Christian Lie/Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro)