Tradisi Event "Pacu Kudo" Menjadi Masa Depan Wisata Olahraga, Budaya dan Ekonomi Kreatif Padang Pariaman -->

AdSense New

Tradisi Event "Pacu Kudo" Menjadi Masa Depan Wisata Olahraga, Budaya dan Ekonomi Kreatif Padang Pariaman

Minggu, 15 Februari 2026
Gelanggang olahraga pacuan kuda di Duku Banyak, Balah Aie Timur, VII Koto, Padang Pariaman, Sumatera Barat, siap menanti para Joki dan Wisatawan berduyun-duyun menyaksikan "Pacu Kudo 2026", 28-29 Maret 2026

Padang Pariaman - Jejak tradisi yang menolak padam, begitulah deru napas kuda, sorak penonton, dan debu arena yang beterbangan selalu menghadirkan rasa haru yang sulit dijelaskan.


Tradisi pacuan kuda rakyat ini bukan sekadar perlombaan, tetapi jejak panjang peradaban masyarakat Minangkabau yang diwariskan lintas generasi.


Di tengah derasnya modernisasi, masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat masih memeluk tradisi sebagai identitas yang tidak boleh hilang.


Melalui penyelenggaraan Pacu Kudo 2026, pemerintah daerah berupaya menjadikan tradisi sebagai wajah masa depan wisata budaya.


Di arena pacuan Duku Banyak, Balah Aie Timur, Kecamatan VII Koto, masyarakat tidak hanya menyaksikan lomba. Tetapi merasakan denyut budaya yang hidup dan menyatu dengan kehidupan sosial.


Bupati John Kenedy Azis memandang Pacu Kudo sebagai simbol ketahanan budaya. Ia menilai, ketika tradisi mampu menghadirkan kebanggaan kolektif, maka di situlah lahir kekuatan untuk membangun pariwisata berbasis kearifan lokal


Baginya, menjaga tradisi bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi strategi membangun masa depan daerah.


Tak tanggung-tanggung Alek Nagari dan Pangguang Kebudayaan untuk menghidupkan raso juga diselenggarakan, sebelum pacuan berlangsung,


So, Alek Nagari tersebut akan menghidupkan suasana kampung dengan warna-warni kesenian tradisional. Indang, silek, hulu ambek, hingga gandang tasa bukan sekadar hiburan, tetapi cerminan filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang menjunjung adat dan kebersamaan.


Setiap dentingan musik tradisional menghadirkan nostalgia sekaligus harapan. Anak-anak menyaksikan kesenian leluhur, para seniman menyalurkan kreativitas. Sementara wisatawan merasakan pengalaman budaya yang autentik. 


Alek Nagari menjadi ruang di mana tradisi tidak hanya dipertontonkan, tetapi diwariskan secara emosional.


Lagi, dari arena tradisi ke panggung ekonomi kreatif digerakan. Karena, di balik gemuruh pacuan, roda ekonomi rakyat berputar kencang. 


Lapak kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga produk kreatif masyarakat nagari tumbuh subur saat ribuan pengunjung datang. Pacu Kudo bukan hanya ruang budaya. Tetapi ladang harapan bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif lokal.


Momentum ini membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berkreasi. Produk lokal yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan nagari, kini mendapat panggung promosi yang lebih luas. Tradisi pun bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.


Dalam agenda ini, tentu tergerak dunsanak rantau pulang kampuang, pulang ke akar budaya. Sehingga Pacu Kudo juga menjadi magnet emosional bagi para perantau Minangkabau


Setiap perhelatan selalu menghadirkan kerinduan untuk pulang kampuang. Tak pelak lagi, berkumpul bersama keluarga, dan menyaksikan tradisi yang membentuk identitas mereka.


Perjumpaan antara masyarakat lokal dan perantau menciptakan energi sosial yang memperkuat ikatan budaya, sekaligus memperluas promosi wisata daerah.


Gotong royong masyarakat dalam mempersiapkan arena, dukungan pemerintah, serta keterlibatan pelaku usaha menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki ruang hidup yang kuat.


Pacu Kudo 2026 bukan sekadar agenda budaya, tetapi simbol optimisme bahwa wisata berbasis tradisi mampu menjadi motor penggerak ekonomi kreatif. Dan, sekaligus menjaga warisan leluhur tetap berdenyut di tengah perubahan zaman.


Akhirnya diperoleh Tri Sukses, sukses panitia mengangkat Pacu Kudo 2026, sukses pergerakan Ekonomi Kreatif, sukses Wisata Daerah Padang Pariaman ke kancah Nasional. Semoga!.(saco).