Sijunjung, fajarsumbar.com – Aktivitas tambang emas tradisional kembali menelan korban jiwa di Kabupaten Sijunjung. Dua warga setempat berinisial DK dan RF ditemukan meninggal dunia setelah tertimbun longsor di kawasan Galoro, Jorong Lintas Harapan, Nagari Palangki, Kecamatan IV Nagari, Kamis (9/4/2026) sekitar pukul 16.15 WIB.
Peristiwa tragis itu terjadi saat kedua korban bersama sejumlah warga lainnya tengah melakukan aktivitas penambangan emas secara tradisional. Tanpa diduga, material tanah di lokasi tambang tiba-tiba longsor dan menimbun para penambang yang berada di dalam area galian.
Mendengar adanya korban tertimbun, para penambang lain dan masyarakat sekitar langsung bergerak cepat melakukan upaya penyelamatan. Dengan peralatan seadanya, mereka berusaha menggali timbunan tanah secara manual menggunakan tangan dan alat sederhana. Namun, usaha tersebut belum membuahkan hasil.
Upaya evakuasi kemudian ditingkatkan dengan mendatangkan dua unit alat berat jenis excavator ke lokasi kejadian. Proses pencarian berlangsung cukup dramatis karena banyaknya material longsor yang menutupi area tambang.
Setelah beberapa waktu, kedua korban akhirnya berhasil ditemukan. Namun nahas, saat dievakuasi dari timbunan material, kondisi keduanya sudah tidak bernyawa.
Kapolres Sijunjung, AKBP Willian Harbensyah, didampingi Kasat Reskrim AKP Hendra Yose, membenarkan peristiwa tersebut saat dikonfirmasi pada Minggu (12/4/2026).
Dia menjelaskan bahwa kedua korban saat itu tengah melakukan aktivitas penambangan emas tradisional menggunakan peralatan sederhana.
“Korban bersama warga lainnya melakukan penambangan dengan mesin pompa air, selang, serta alat dulang. Aktivitas ini dilakukan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ungkap Hendra Yose.
Dugaan sementara, longsor dipicu oleh kondisi tanah yang labil akibat tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Struktur tanah yang tidak stabil membuat area bekas tambang tersebut sangat rawan runtuh sewaktu-waktu.
Selain itu, diketahui bahwa lokasi kejadian merupakan bekas tambang lama yang sebelumnya telah ditinggalkan. Namun, karena faktor ekonomi, aktivitas penambangan kembali dilakukan oleh warga secara swadaya tanpa pengamanan yang memadai.
Pihak kepolisian kini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden tersebut. Sejumlah peralatan tambang yang digunakan oleh korban dan warga lainnya telah diamankan sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Kapolres Sijunjung juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan mempertimbangkan risiko saat melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana, khususnya di area bekas tambang yang memiliki potensi longsor tinggi.
Tragedi ini kembali menjadi pengingat keras akan bahaya aktivitas tambang tradisional tanpa standar keselamatan yang memadai, terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.(*)
Komentar