Icon Baru Ranah Minang! Ide Raksasa : Kawasan Religi Terpadu "Kampuang Haji & Umrah” Padang Pariaman -->

AdSense New

Icon Baru Ranah Minang! Ide Raksasa : Kawasan Religi Terpadu "Kampuang Haji & Umrah” Padang Pariaman

Sabtu, 16 Mei 2026
Masjid Raya IKK Ali Mukhni dan Kantor Bupati Padang Pariaman di Parik Malintang Kecamatan Enam Lingkuang (foto.saco)

Padang Pariaman - Langkah besar itu sedang disiapkan di jantung bumi Seribu Surau Padang Pariaman, Sumatera Barat. Tepatnya di kawasan Kompleks Pemerintah Daerah Padang Pariaman. Ini sebuah ide gagasan dengan terobosan ambisius mulai dibicarakan serius.


Suara dan bisik-bisik yang tertangkap oleh penulis dari berbagai pihak yakni sedang merancang akan membangun “Kampuang Haji & Umrah Padang Pariaman”. Ini kelak akan diproyeksikan cikal bakal kawasan religi terpadu yang disebut-sebut akan menjadi pusat manasik terbesar di Ranah Minang.


Bukan sekadar replika biasa. Tetapi sebuah miniatur pengalaman Tanah Suci yang dipadukan dengan ekonomi syariah, wisata keluarga Islami, hingga pusat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) masyarakat nantinya. 


Di tengah meningkatnya animo masyarakat terhadap ibadah haji dan umrah, banyak calon jamaah selama ini hanya belajar lewat teori dan praktik seadanya di rumah ibadah kampuang.


Dari sinilah gagasan besar itu lahir. Sebuah kawasan yang memungkinkan masyarakat merasakan simulasi Thawaf mengelilingi Ka’bah


Nanti warga akan merasakan bagaimana berjalan lambat dan berlari kecil di jalur Sa’i Safa-Marwah. Hingga merasakan suasana Arafah, Mudzalifah dan Mina (Armuzna) tanpa harus meninggalkan kampung halaman sendiri.


Tak pelak lagi, ini memperoleh sebuah pengalaman spiritual yang dirancang mendekati suasana di tanah suci Makkah Al Mukaramah dan Madinah Al Munawarah. 


Yang membuat publik mulai menoleh, mungkin, konsep ini tidak hanya berbicara tentang ibadah. Di dalam rancangan ide itu, sangat luar biasa rancak benar tadanga oleh Wak. 


Konon, kawasan tersebut nantinya, juga diproyeksikan menjadi pusat ekonomi baru di Pusat Ibu Kota Kabupaten (IKK) Padang Pariaman, Parik Malintang, Kecamatan Enam Lingkuang. Karena, akan berdampingan masih dalam kawasan Kantor Bupati dan Masjid Raya IKK Ali Mukhni yang telah berdiri megah.


Akan rancak sangaik bila telah terwujud pula jalan lingkar alternatif milik Sumbar dari Buayan ke Sicincin, yang berada persis lewat di depan Kantor Bupati.


Begitulah agaknya, alasan almarhum Muslim Kasim, Bupati Padang Pariaman dua priode itu untuk menguatkan membangun disana pusat pemerintahan sebagai pengembangan wilayah. 


Juga, karena jalan alternatif melalui kawasan tersebut telah duluan hadir yang dibangun oleh Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi ketika itu. 


Andaikata jalan provinsi tersebut telah terwujud beraspal hotmix rancak dari Buayan-Sicincin yang melewati Stadium Utama Olaraga Sumbar di Nagari Sikabu Lubuak Aluang, juga lalu di depan perkantoran Pemkab Padang Pariaman itu, kian terkuak pergerakan ekonomi warga sepanjang jalan ini.


Sayangnya, jikalau belum terwujud jalan yang bagus dibawah kendali Provinsi Sumbar, akan selama itu pula agaknya mau masuk ke Kantor Bupati dari belakang.


Kini, ruas jalan Buayan-Sicincin tersebut, bagaimana kelanjutannya, entahlah, alah duo kali lo Gubernur batuka ? 


Dalam rancangan itu, akan ada sentra oleh-oleh haji, food court Timur Tengah, pusat kuliner halal, penginapan Home Stay syariah, hingga ruang usaha untuk UMKM lokal.


Bahkan, akan ada bangunan kios-kios ditata apik bercorak Minang yang menyediakan seperti Songket Minang, rendang kemasan, bordir Islami dan produk halal masyarakat. Ini direncanakan tampil sejajar dengan nuansa Arab modern yang megah.


Bayangkan sebuah replika Ka’bah setinggi sekitar 15 meter berdiri di Padang Pariaman. Di sekelilingnya, ribuan jamaah akan dapat melakukan simulasi thawaf di lantai marmer granit, sementara kanopi hidrolik ala Masjid Nabawi membentang di atas kawasan.


Di sudut lain, terdapat replika tenda Mina, Jabal Rahmah mini, hingga jalur Sa’i sepanjang ratusan meter lengkap dengan pendingin udara dan layar digital doa-doa manasik.


Gagasan tersebut terdengar mewah agaknya. Sehingga mungkin ado nan mangecek dan barucap bagi sebagian orang, terlalu berani untuk ukuran daerah.


Namun Padang Pariaman tampaknya, punya alasan kuat bermimpi besar. Keberadaan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang terletak di Nagari Katapiang, Batang Anai, punya alasan kuat. Ini juga menjadi salah satu faktor strategis. Sebab, hanya ditempuh sekitar  duapuluh menit dari IKK Padang Pariaman . 


BIM ini telah lama juga menjadi pintu keberangkatan jamaah haji dan umrah dari Sumatera Barat dan provinsi tetangga. Tentu, arus manusia religius itu dianggap sebagai peluang emas untuk membangun ikon wisata spiritual yang selama ini belum dimiliki Sumbar secara terpadu. Walaupun telah ada dalam skala ngenek, kita juga tidak menapiknya. 


Tidak hanya itu, kawasan ini juga akan dirancang menjadi pusat edukasi Islam modern. Akan ada museum sejarah haji Nusantara, simulator imigrasi dan bandara, ruang pelatihan pembimbing haji profesional, hingga kelas bahasa Arab dasar bagi masyarakat dan pelajar. 


Anak-anak sekolah, bahkan diproyeksikan bisa belajar manasik sejak usia dini. Setidaknya, melalui konsep wisata edukasi Islami yang dikemas lebih interaktif dan digital.


Di balik kemegahan konsep tersebut, angka yang muncul juga membuat banyak pihak tercengang. Estimasi awal pembangunan disebut mereka mencapai Rp40 hingga Rp70 miliar.


Anggaran sebesar itu akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur kawasan, tentu, secara bertahap alias ba-ansua-ansua mah. Skala prioritas begitu cakap orang bijak.


Kelak akan ada seperti replika Masjidil Haram, gedung edukasi, zona UMKM, hingga smart tourism berbasis aplikasi digital dan pengawasan AI. 


Sebagian masyarakat akan memuji visi besar itu sebagai lompatan sejarah. Namun tidak sedikit pula yang mulai mempertanyakan. Apakah proyek sebesar ini realistis diwujudkan di tengah berbagai persoalan daerah yang masih membutuhkan perhatian?


Itupun wajar ada pro dan kontra menyikapi suatu gagasan baru. Dan, apalagi menghadirkan sebuah fasilitas yang dikelola secara profesional untuk ummat. Yang terpenting ide berkemajuan untuk semua. Juga terdorong telah adanya institusi pemerintah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Sebab, Asrama Haji Sumbar dan BIM terletaknya di Padang Pariaman bukan? 


Meskipun demikian, optimisme tetap mengalir. Menurut analis penulis bahwa Pemerintah daerah agaknya mendukung “Kampuang Haji & Umrah Padang Pariaman” kelak. Bukan hanya menjadi lokasi latihan ibadah. Melainkan pusat wisata religi terbesar di Sumatera Barat.


Andaikata pihak Pemda Padang Pariaman maghaso baghek jo cameh, disebabkan pitih sayuik, maka bisa sajalah diberi ruang pihak ketiga investor umpamanya, yang berminat membangun "Kampuang Haji & Umrah Padang Pariaman", sebab ada peluang tertangkap disana? 


Ini merupakan sebuah kawasan yang hidup siang dan malam. Tempat jamaah belajar, wisatawan datang, UMKM bergerak, home stay terisi, dan ekonomi rakyat tumbuh dari denyut spiritualitas.


 Jika benar terwujud, Padang Pariaman bukan lagi sekadar daerah lintasan menuju BIM. Tetapi bisa menjelma menjadi “Makkah Minang” yang selama ini hanya hidup dalam mimpi dan wacana. Semoga! (Catatan: by.Saco).