![]() |
| Petugas Kloter 5 Embarkasi Padang yang membimbing mengayomi jamaah asal Padang Pariaman dan Provinsi Bengkulu (foto.dok.kloter5) |
Padang - Suasana Madinah yang biasanya teduh berubah menjadi tegang menjelang tengah malam. Seorang jemaah lanjut usia dilaporkan hilang usai menunaikan salat maghrib di Masjid Nabawi.
Kabar itu menyebar cepat di antara rombongan, memicu kekhawatiran yang tak bisa dibendung. Di tanah suci, kehilangan bukan sekadar tersesat, tapi bisa berujung risiko besar.
Di saat kegelisahan itu memuncak, menjelang subuh muncul kabar lain yang tak kalah mencemaskan. Seorang jemaah kembali harus mendapat penanganan serius dan dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).
Untuk sementara, kondisi pasien masih ditangani oleh tim kesehatan kloter yang siaga penuh menghadapi situasi darurat.
Padahal sehari sebelumnya, suasana penuh syukur sempat menyelimuti rombongan. Pada Rabu pagi (29/4/2026), jemaah Kloter 5 asal Embarkasi Padang mendarat dengan selamat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz.
Kedatangan itu disambut lega, seolah menjadi awal yang menjanjikan bagi perjalanan ibadah mereka.
Rutinitas harian pun sempat berjalan normal. Sebagian jemaah menunaikan ibadah di kamar hotel karena kondisi fisik, sementara yang lain memanfaatkan jarak dekat menuju Masjid Nabawi untuk beribadah langsung.
Distribusi makanan juga dilaporkan lancar, menandakan sistem pelayanan masih berjalan sesuai rencana.
Namun di balik kelancaran itu, tantangan besar diam-diam mengintai. Banyak jemaah berusia lanjut dengan kondisi kesehatan yang rentan.
Tidak sedikit pula yang mengalami kepikunan, membuat mereka rawan tersesat di tengah keramaian jutaan manusia. Situasi ini menjadi ujian nyata bagi kesigapan petugas di lapangan.
Data terbaru mencatat, tiga jemaah asal Padang Pariaman masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi. Yakni Tinaman, Suarti Binti Rasul, dan Mardiah Saiun Idris.
"Kondisi mereka terus dipantau intensif oleh tim kesehatan kloter, sektor, hingga maktab, sebagai bagian dari upaya memastikan keselamatan seluruh jemaah," kata Kepala Kankemenhaj Padang Pariaman Adri Ahmad kepada awak media fajarsumbar.com ini, Sabtu (2/5/2026) mengutip laporan Petugas Kloter 5 Embarkasi Padang dari Madinah
Peristiwa hilangnya jemaah ini menjadi peringatan keras bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga ujian manajemen dan kesiapan fisik.
Di tengah lautan manusia dan keterbatasan kondisi, satu hal menjadi jelas. Klalaian sekecil apa pun bisa berubah menjadi krisis yang mengancam keselamatan.(saco).
Komentar