Sawahlunto, fajarsumbar.com — Riuh rendah sorak penonton menggema di dalam Bengkel Utama Silo, berpadu dengan ketukan langkah kaki di atas matras dan pekikan penuh vitalitas para Kenshi Shorinji Kempo yang tengah berlaga. Di luar arena, semilir angin Kota Sawahlunto yang sejuk mengalir di antara deretan stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berjejer rapi.
Perhelatan Kejuaraan Wilayah Shorinji Kempo Sumatera ini tidak sekadar menjadi panggung adu ketangkasan fisik, melainkan sebuah ruang perjumpaan budaya, pariwisata, dan geliat ekonomi yang saling berkelindan di kota pusaka ini.
Bagi para pelaku usaha lokal, kehadiran ratusan atlet, pelatih, dan official dari berbagai penjuru Pulau Sumatera menjadi oase penyegar bagi roda perekonomian mereka. Salah satu wajah penuh syukur itu adalah Diah, seorang pelaku UMKM yang menjajakan produk parfum di sekitar area acara. Menempati salah satu stan di sekitar area pertandingan, Diah dengan telaten melayani para pembeli yang didominasi oleh wajah-wajah baru dari luar daerah.
"Kami jualan parfum, Bang. Udah ini hari kedua jualan di sini. Ya, ucapan terima kasih untuk pihak panitia karena acara ini kami UMKM jadi jalan. Alhamdulillah ada peningkatan dari sebelum-sebelumnya untuk jualannya," ujar Diah sembari menata botol-botol wewangian di stannya dengan senyum yang terus mengembang.
Bagi Diah dan banyak pedagang lainnya, kejuaraan ini adalah pembuka jalan rezeki yang mempertemukan produk rumahan mereka dengan pasar yang jauh lebih luas.
Tidak jauh dari stan Diah, atmosfer yang tak kalah bergairah terlihat di stan Rahma Dina yang menjual pernak-pernik resmi kejuaraan. Mulai dari kaos bertuliskan "Shorinji Kempo Indonesia", gantungan kunci unik, gelang Swarovski, hingga minuman segar kemasan cup tersusun rapi menyambut para pengunjung. Rahma Dina tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya melihat grafik penjualan yang terus merangkak naik sejak hari pertama hingga memasuki hari ketiga kompetisi.
Sembari melayani kontingen yang berburu buah tangan, Rahma Dina menyampaikan apresiasi mendalam kepada figur-figur di balik layar yang sukses membawa acara ini ke Sawahlunto. "Alhamdulillah dari hari pertama, kedua, dan hari ini peningkatannya mantap. Kalau untuk ucapan terima kasihnya saya ucapkan terima kasih khususnya kepada Bapak Bagas yang sudah menyelenggarakan acara kempo di Sawahlunto. Buat UMKM kita di Sawahlunto ini semakin maju," tuturnya dengan penuh semangat, Jum'at 26 Juni 2026.
Lewat koordinasi yang matang, event olahraga ini berhasil dikonversi menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif masyarakat setempat.
Di sudut lain, esensi dari olahraga ini—yakni persaudaraan dan pembentukan karakter—terpancar kuat dari testimoni para atlet yang datang dari jauh. Nandwita Fahraini, atlet muda berbakat asal Siak, Provinsi Riau, yang akrab disapa Fahra, berbagi pengalamannya tentang bagaimana Sawahlunto telah mencuri hatinya sejak hari pertama kedatangan. Mengenakan jaket kontingen merah-hitam kebanggaannya, Fahra memandangi deretan perbukitan hijau yang membentengi kota.
"Pandangannya kotanya bagus, adem, pemandangannya juga ya baguslah pegunungannya, adem suasananya," ungkap Fahra mengenai kesan pertamanya terhadap kota tambang bersejarah ini. Baginya, ketenangan alam Sawahlunto menjadi penawar ketegangan yang sempurna di sela-sela jadwal pertandingan yang padat.
Namun, di atas semua medali dan piala yang diperebutkan, Fahra menekankan bahwa pengalaman batin dan jalinan persahabatan baru antaratlet adalah medali yang sesungguhnya. Kalah atau menang di atas matras adalah hal yang lumrah, tetapi ikatan persaudaraan sejati sebagai sesama kenshi akan dibawa pulang sebagai cerita seumur hidup.
"Ya bahagia bisa mengenal banyak kawan lagi. Menang kalah ya soal belakangan gitu, menambah pengalaman baru aja. Sarannya lebih diperseru aja kegiatannya, diperbanyak lagi lomba-lombanya, kegiatan-kegiatannya terhadap lomba-lomba gitu," pungkas Fahra menitipkan harapan agar perhelatan olahraga berbasis wisata seperti ini dapat terus dipertahankan dan dikemas lebih meriah lagi di masa depan.
Ketika sore beranjak turun dan lampu-lampu kota mulai menyala, Kejuaraan Shorinji Kempo di Sawahlunto ini meninggalkan jejak yang mendalam. Ia membuktikan bahwa ketika olahraga, pariwisata, dan UMKM berkolaborasi dalam satu harmoni, dampaknya tidak hanya melahirkan juara-juara baru di matras pertandingan, tetapi juga memenangkan hati dan kesejahteraan masyarakat yang merayakannya. (ton)

Komentar
