Didikan Subuh Bermula dari Masjid Raya Jihad Padang Panjang -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Didikan Subuh Bermula dari Masjid Raya Jihad Padang Panjang

Kamis, 29 April 2021
Masjid Raya Jihad Padang Panjang.


Padang Panjang, fajarsumbar.com - Sukarta Fuaddin (kini almarhum) seorang pelajar Muhammadiyah kala itu, gundah melihat anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Meski buya (begitu ia akrab disapa) adalah  perantau dari Alahan Panjang,Kabupaten Solok, di pikirannya ada rasa tanggung jawab  terhadap lingkungan sekitar. Waktu itu sekitar tahun 1963.


Sukarta tinggal di rumah kos di Kelurahan Balai-Balai, Kecamatan Padang Panjang Barat dekat Masjid Jihad. Sukarta ingin anak-anak di sekitar tempat tinggal sibuk bermain, tetapi menjadi orang yang berilmu. 


Terlintaslah di pikirannya mengajak mereka belajar di masjid seminggu sekali, di waktu Subuh. 


Sukarta berharap apa yang dia ketahui, maupun ilmu yang diperoleh dapat dikembangkan.


Singkat cerita, anak-anak yang awalnya sedikit, mengikuti Didikan Subuh, lama-kelamaan menjadi banyak. Sejumlah pemuda dari berbagai kalangan dan pendidikan waktu itu bersama Sukarta membangun gerakan Didikan Subuh. Dukungan pun datang. Anak-anak itu bahkan diajari bermain drum band di siang harinya, sebagai penarik hati ke masjid. 


"Waktu Didikan Subuh, kami diajari hafalan ayat Alqan, hadis, pidato, sajak/pantun. Ini sangat berkesan bagi kami. Didikan Subuh di sini memberikan motivasi kepada menjadi pribadi yang mencintai masjid, pribadi yang percaya diri. 


Di Masjid Jihad inilah Didikan Subuh itu pertama kali tercetus tahun 1963," kata H. Asrizal Aziz (65), yang mengikuti Didikan Subuh di Masjid Raya Jihad di tahun tersebut.


Pengurus Masjid Jihad  dan pengurus masjid lainnya di Padang Panjang akhirnya mengikuti Didikan Subuh yang dilaksanakan di Masjid Jihad. Hingga akhirnya Didikan Subuh  menggema sampai ke berbagai daerah di Sumbar. 


"Didikan Subuh sempat terhenti tahun 1965. Didikan Subuh bangkit kembali di tahun 1967 sampai saat ini," pungkasnya. 


Almarhum Sukarta Fuaddin dalam karirnya, sebagai guru/dosen di perguruan Muhammadiyah, juga dikwnal sebagaib da'i. Dalam keseharian pun ia akrab dipanggil dengan sebutan buya. (*/syam)




adsen