Harimau Kembali Berulah, Dua Ekor Kerbau Diterkam, Satu Mati dan Satu Lagi Luka Cakar -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Harimau Kembali Berulah, Dua Ekor Kerbau Diterkam, Satu Mati dan Satu Lagi Luka Cakar

Jumat, 16 April 2021
Jejak satwa liar diduga pemangsa dua ekor kerbau milik warga ditemukan disekitar lokasi kejadian


Lubuk Basung, fajarsumbar. com - Diduga harimau Sumatera  (Panthera Tigris Sumatrae) kembali berulah. Dua ekor kerbau milik warga Cubadak Lilin dan Sari Bulan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dimangsa. Satu ekor mati dan satu lagi luka-luka kena cakar.


Kejadian yang menimpa ternak milik warga itu, Kamis (15/4). Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam, Ade Putra di Lubuk Basung, Jumat (16/4/2021) menyampaikan satu ekor kerbau  mati  milik Datuak Bagindo (50) warga di Jorong Sari Bulan, sedangkan satu ekor kerbau yang mengalami luka milik Rajo Bentan (50) warga Jorong Cubadak Lilin


"Kerbau yang mati itu telah di kubur oleh pemilik dan warga, Kamis (15/4)," katanya.


Ia mengatakan, rencananya, tim resor KSDA Agam akan turun ke lokasi untuk wawancara dengan pemilik ternak dan indentifikasi lapangan di dua lokasi itu dalam memastikan jenis satwa,  Jumat (16/4) siang.


Laporan konflik antara manusia dengan satwa liar itu didapat dari Wali Jorong Cubadak Lilin, Dafit. Setelah itu, bakal dilakukan penanganan lebih lanjut. "Penanganan itu kita lakukan apabila sudah mendapatkan laporan dan jejak dari satwa liar itu," katanya.


Ia mengakui, ini merupakan kejadian konflik antara manusia dan satwa liar yang kedua kalinya di lokasi itu, karena pada awal Maret 2021 juga ada kasus serupa dengan memangsa empat ekor kerbau.


Sedangkan total kejadian konflik antara manusia dan satwa liar selama Januari sampai 16 April 2021 sebanyak 10 kasus.


Pada 2020 jumlah kasus konflik antara manusia dengan satwa liar sebanyak 10 kasus dan pada 2019 sebanyak 11 kasus.


Untuk mengantisipasi konflik itu, pihaknya mengimbau warga agar tidak mengembalakan ternak di pingir hutan rawan konflik, mengandangkan ternak, tidak melakukan aktivitas di sungai dan lainnya.


Imbauan itu disampaikan melalui wali nagari, wali jorong, Bhabinkamtibmas dan lainnya. "Ini kita lakukan agar ternak tidak diserang satwa liar," katanya. (Yanto)




adsen