Aneh Bantuan Sembako Baznas Provinsi di Padang Tae Diduga Dibagikan Asal Jadi, Warga Banyak Tidak Tahu -->

IKLAN ATAS

iklan FEED halaman depan

Aneh Bantuan Sembako Baznas Provinsi di Padang Tae Diduga Dibagikan Asal Jadi, Warga Banyak Tidak Tahu

Sabtu, 01 Mei 2021
Salah seorang penerima sembako yang diserahkan panitia.


Painan, fajarsumbar.com - Aneh,  penyaluran bantuan sembako berasal dari Baznas Sumbar diduga tidak pada tempatnya dan terkesan sangat tidak transparan. Kejadiannya di Dusun Padang Tae, Kenagarian Amping Parak, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan,  Sabtu (1/5/2021).


Perangkat nagari, ketua pemuda dan tokoh masyarakat sekitar banyak yang tidak tahu menahu persoalan bantuan tersebut. 


Mengapungnya permasalahan tersebut setelah banyak warga ribut dan bertanya kenapa mereka tidak menerianya. Sedangkan warga dianggap berada ekonominya menerima bantuan tersebut. Jadi timbul pertanyaan warga apa kategori penerimanya.


Bantuan yang diketahui berasal dari Baznas Sumbar berupa paket sembako itu dibagikan rumah salah seorang petinggi partai di daerah tersebut, bukan di kantor walinagari.


Lebih aneh lagi, pembagian sembako itu diduga tanpa koordinasi dengan ketua pemuda, dan perangkat nagari serta tokoh masyarakat. Terkesan pembagiannya hanya main comot saja, sehingga bantuan yang disalurkan oleh Baznas Sumbar yang direncanakan untuk warga kurang mampu, sudah dipastikan tidak begitu tepat sasaran.


Pembagian sembako terdiri dari   beras 5 kg, gula pasir 2 kg, minyak goreng kemasan 1 liter, tepung terigu 1 kg, sirup merk marjan 1 botol juga tidak diketahui perangkat nagari.


Padahal nagarilah yang lebih mengetahui siapa saja warga yang pantas untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah tersebut.


Dari pantauan fajarsumbar.com di lapangan kegiatan tersebut terkesan sangat tidak transparan. Selain tidak adanya koordinasi dengan pihak nagari penyaluran bantuan sembako tersebut terkesan asal jadi sudah dipastikan tidak tepat sasaran karena penerima bantuan asal comot saja.


Ketika dikonfirmasi kepada ketua panitia penyerahan sembako, Vivit Handayani tentang berapa jumlah paket yang dibagikan dia menjawab sebanyak 30 paket.


Tetapi anehnya ternyata di dalam rumahnya masih terdapat ratusan paket yang belum dibagikan.


Ketika ditanya paket yang di dalam rumahnya mau dibagikan ke mana? Vivit tidak bisa menjawab dan terlihat gugup dan cemas. Hal itu terlihat di raut wajahnya ketika fajarsumbar.com menanyakannya.


Jika penyaluran bantuan benar dan tidak unsur-unsur lain, seharusnya panitia penyaluran bantuan tidak perlu gugup dan cemas ketika ditanya wartawan.


"Sampaikan saja apa adanya, dan bantuan itu sudah diberikan kepada orang-orang kurang mampu di kenagarian ini. Kalau cemas dan gugup tentu timbul kecurigaan warga," ujar salah seorang warga Dusun Padang Tae, Kenagarian Amping Parak, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan kepada fajarsumbar.com.


Rasa aneh pembagian sembako tersebut juga dilontarkan ketua pemuda Padang Tae, Darda. Dia tidak tahu menahu kalau ada bantuan sembako dari provinsi tersebut.


"Saya sebagai ketua pemuda Padang Tae tidak tau menahu dengan kegiatan ini, seharusnya panitia pelaksana koordinasi dan melaporkan dulu supaya bantuan sembako tersebut tepat sasaran dan tidak asal dibagikan," ungkap Darda dengan nada kesal.


Seandainya pihak panitia mau berkoordinasi dengan pemuda dan nagari, sudah dipastikan penerimanya tepat sasaran. Sebab pemuda dan nagari punya data warga yang sangat perlu menerima bantuan akibat terdampak Covid-19.


Diakui, semua warga terdampak atas kasus pandemi Covid-19, tapi karena keterbatasan bantuan dari pemerintah, maka diserahkanlah kepada mereka yang benar-benar terdampak dan jangan main comot saja.


Untuk itu dia berharap ke depan, jika ada bantuan dari pemerintah di suatu kenagarian, sebaiknya berkoordinasilah dengan perangkat nagari, ketua pemuda, tokoh masyarakat, agar bantuan yang diserahkan benar-benar tepat sasaran.


"Jangan ada pula nantinya rumah sudah tokok babunyi, kita sudah payah, tapi timbul pula masalah. Kalau masalah biasa-biasa saja bisa diselesaikan dengan cara musyarawah. Tapi bagaimana nantinya kalau masalahnya lari ke pidana, hukum pula menyesaikannya. Kan tambah susah jadinya," ujar warga lainnya. (wandi)



adsen