Kuba Tangkap 144 Demonstran Anti-Pemerintah hingga Jurnalis -->

IKLAN ATAS

Kuba Tangkap 144 Demonstran Anti-Pemerintah hingga Jurnalis

Rabu, 14 Juli 2021

 

Aparat Kuba menangkap setidaknya 144 orang, termasuk jurnalis dan demonstran, dalam serangkaian aksi protes anti-pemerintah beberapa hari belakangan. (AFP/Yamil Lage)

Jakarta -  Aparat Kuba menangkap setidaknya 144 orang, termasuk jurnalis dan demonstran, dalam serangkaian aksi protes anti-pemerintah beberapa hari belakangan. Kelompok gerakan San Isidro melansir 144 nama orang yang ditahan itu melalui kicauan di Twitter pada Senin (12/7). 


Seratusan orang itu dilaporkan hilang setelah ikut serta dalam demonstrasi sehari sebelumnya. 


Nama-nama yang dirilis San Isidro tersebut mencakup aktivis Guillermo Farinas, mantan tahanan politik Jose Daniel Ferrer, dan seniman Luis Manuel Otero Alcantara, sebagaimana dikutip cnnindonesia.


Ada pula sutradara teater, Yunior Garcia, yang juga merupakan pemimpin gerakan 27N. Gerakan itu lahir setelah sejumlah protes para pekerja seni tahun lalu. Namun, Garcia dilaporkan sudah dibebaskan pada Senin.


Setelah bebas, Garcia bercerita bahwa orang-orang yang ditangkap itu dipukuli, diseret, dan dipaksa masuk ke dalam sebuah truk, kemudian dibawa ke salah satu tahanan di Havana. "Kami diperlakukan seperti sampah," ucap Garcia. 


Seratusan orang itu turun ke jalan untuk menuntut agar Presiden Miguel Diaz Canel mengundurkan diri karena dianggap tidak becus menangani pandemi Covid-19. Aksi ini disebut-sebut sebagai demonstrasi terbesar di Kuba sejak 1994. Namun, aksi itu berakhir setelah kepolisian membubarkan massa. 


Sehari kemudian, sekitar 100 demonstran kembali berkumpul di Havana sambil meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah, seperti "Hancurlah komunisme!" dan "Lengserlah kediktatoran!"


Selain demonstran, aparat Kuba juga menahan sejumlah jurnalis, termasuk Camila Acosta, seorang koresponden untuk harian Spanyol, ABC. Kementerian Luar Negeri Spanyol mendesak Kuba untuk menghormati hak untuk berdemonstrasi dan mendesak aparat segera membebaskan Acosta. 


Selain Spanyol, Amerika Serikat juga menyoroti penahanan ini. Asisten Menlu AS untuk urusan Belahan Bumi Barat, Julie Chung, mengatakan bahwa para demonstran tersebut hanya menyalurkan aspirasi mereka. Ia pun mendesak Kuba untuk membebaskan para demonstran. 


"Kekerasan dan penahanan terhadap demonstran Kuba dan penghilangan aktivis independen mengingatkan kita bahwa warga Kuba harus membayar harga mahal untuk kebebasan dan kehormatan. Kami mendesak pembebasan mereka segera," ujar Chung, seperti dikutip AFP. (*)