Taliban Janji Wanita Afghanistan Bisa Sekolah hingga Kuliah -->

Taliban Janji Wanita Afghanistan Bisa Sekolah hingga Kuliah

Rabu, 18 Agustus 2021

Foto pada 27 Januari 2020. Sekelompok perempuan Afghanistan berlompat saat berlatih Jiu-Jitsu, Kabul, Afghanistan


Jakarta -- Taliban menjanjikan tetap membolehkan kaum perempuan di Afghanistan menempuh pendidikan hingga universitas setelah kembali berkuasa di negara itu.


"(Perempuan) boleh mendapatkan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga tingkat tinggi, artinya universitas. Kami sudah menyampaikan kebijakan ini dalam konferensi internasional di Moskow (Rusia) dan dalam konferensi di di sini di Doha," kata Juru Bicara Biro Politik Taliban, Suhail Shaheen, di Doha, Qatar, seperti dilansir AFP, Rabu (18/8).


Saat Taliban berkuasa pada 1996 sampai 2001, seluruh sekolah khusus perempuan di Afghanistan ditutup. Saat itu kaum perempuan di Afghanistan juga dilarang bepergian dan bekerja, serta diwajibkan mengenakan burkak ketika berada di luar rumah, sebagaimana dikutip cnnindonesia.


Burkak adalah pakaian khusus Muslimah yang menutupi tubuh mereka dari kepala hingga ujung kaki, dengan sekat jaring pada bagian mata untuk melihat.


Kekhawatiran itu juga yang menghinggapi kaum perempuan di Afghanistan ketika Taliban kembali berkuasa.


Guna memastikan Taliban tetap menaati janji mereka, Dana untuk Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan sudah membahas soal hak-hak pendidikan bagi kaum perempuan di Afghanistan.


"Kami masih melakukan pembahasan, dan kami yakin berdasarkan hasil diskusi itu. Kami tidak punya satupun masalah dengan Taliban di kantor perwakilan kami," kata Direktur Operasional UNICEF di Afghanistan, Mustapha Ben Messaoud, seperti dilansir Reuters.


Ben Messaoud mengatakan saat ini 11 dari 13 kantor perwakilan UNICEF di Afghanistan yang masih beroperasi.


UNICEF mengatakan saat ini kepala perwakilan Taliban di setiap wilayah masih menunggu panduan dari para pemimpin mereka tentang masalah pendidikan bagi perempuan. Sementara di sisi lain kelompok masyarakat sipil Afghanistan berharap kegiatan sekolah bagi perempan tetap berjalan dan dipertahankan.


Seorang pejabat Taliban urusan kesehatan di Provinsi Herat, yang menjadi lokasi salah satu kantor perwakilan UNICEF, menyatakan meminta karyawan perempuan segera melapor. Menurut Ben Messaoud saat ini mereka belum bisa menjalin komunikasi dengan pemerintah Taliban di Ibu Kota Kabul.


Juru Bicara Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Rupert Colville, mengatakan bisa memahami kekhawatiran para penduduk Afghanistan yang pernah mengalami masa pemerintahan tangan besi Taliban di masa lalu.


"Kami meminta Taliban memperlihatkan tindakan mereka, bukan hanya kata-kata, untuk meyakinkan banyak orang mereka bisa terbebas dari rasa takut," ujar Colville.


Saat ini sejumlah negara masih melakukan proses evakuasi warga mereka dan staf diplomatik yang berada di Afghanistan. Sedangkan Taliban menyatakan peperangan di Afghanistan sudah berakhir dan menawarkan pengampunan kepada para mantan aparat keamanan dan pegawai negeri pemerintahan sebelumnya.


Taliban juga menjanjikan menjaga hak-hak perempuan Afghanistan yang selama 20 tahun ini diperbolehkan menempuh pendidikan dan berkarir.(*)