STY: Saya Ingin Ubah Sistem Indonesia, Jangan Fokus ke Prestasi -->

Adsense-ATAS

STY: Saya Ingin Ubah Sistem Indonesia, Jangan Fokus ke Prestasi

Minggu, 09 Januari 2022

Shin Tae Yong ingin mengubah sistem sepak bola Indonesia.


Jakarta - Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae Yong memiliki target ambisius. Shin berambisi mengubah sistem sepak bola Indonesia agar tidak fokus pada prestasi.


Sejak dipercaya PSSI menjadi pelatih Timnas Indonesia pada Desember 2019, Shin Tae Yong belum mampu memberi gelar. Namun Timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih 51 tahun itu diprediksi akan punya masa depan yang cerah.


Hasil menjadi runner-up Piala AFF 2020 menggunakan banyak pemain muda merupakan salah satu tanda program Shin Tae Yong cukup berhasil, sebagaimana dikutip CNNindonesia.com.


Dalam wawancara dengan Masters yang diunggah melalui YouTube, Shin Tae Yong mengaku ingin mengubah sistem sepak bola Indonesia yang terlalu fokus pada prestasi.


"Sebenarnya saya ke Indonesia untuk mengubah sistem sepak bolanya. Daripada terlalu menitikberatkan pada prestasi. Saya berpikir akarnya harus kuat, agar ke atasnya juga kuat," ujar Shin Tae Yong.


"Tidak bisa hanya membebankan prestasi di kancah senior kepada pelatih. Sebelum saya masuk, Indonesia adalah tim dengan rata-rata pemain tertua di Asia Tenggara. Tapi sekarang di tangan saya rata-ratanya 21,5 tahun. Tim seniornya rata-rata berumur 21,5 tahun. Saya benar-benar merekrut pemain-pemain muda," ucap pelatih asal Korea Selatan itu.


Shin Tae Yong mengatakan jika nantinya sudah meninggalkan Indonesia, tim Garuda akan meraih hasil yang bagus jika fokus pada pengembangan pemain muda.


"Karena saya bukanlah orang yang akan terus berada di sana. Bagaimanapun saya harus menempa pemain muda dan mengubah sistemnya. Saya berusaha membuat tim dengan pemikiran seperti itu," ujar Shin Tae Yong.


Terkait kesulitan dalam melatih Timnas Indonesia, Shin Tae Yong mengaku ada beberapa, termasuk masalah bahasa.


"Yang paling sulit adalah mengubah gaya hidup yang ada di negara itu. Dari segi perbedaan budaya, banyak yang harus saya ikuti untuk memahami mereka. Masalah dukungan dari pihak administratif. Ada juga kendala bahasa yang bisa membuat timbulnya kesalahpahaman," ucap Shin Tae Yong.(*)