Ketua YISC Duski Samad, STIT Syekh Burhanuddin Menuju Institut Syekh Burhanuddin -->

AdSense New

Ketua YISC Duski Samad, STIT Syekh Burhanuddin Menuju Institut Syekh Burhanuddin

Sabtu, 24 September 2022

Ketua Yayasan Islamic Centre (YISC) Padang Pariaman Prof.Dr.H.Duski Samad,M.Ag (foto.dok.saco)

Amanah menjadi Ketua YISC bersama Tim kepengurusan priode 2022-2027, adalah tugas mulia dan wasilah pengabdian, yang insya Allah akan ditunaikan dengan sebaik-baiknya. 


Kesediaan teman-teman untuk memimpin dan bergabung di lembaga nirlaba, non profit YISC dan SB Institut ini adalah sebagai tanggung jawab moral, tugas mencerdaskan bangsa, dan meneguhkan paham keagamaan masyarakat Padang Pariaman.


Secara pribadi, sejak tahun 1997, saya sudah memikirkan dan melakukan kegiatan akademis. Di awali dengan penelitian dan penulisan buku Syekh Burhanuddin dan Islamisasi di Minangkabau, 1998.


Penelitian Surau Syekh Burhanuddin, 1999. Buku Tarekat Syathariyah di Minangkabau 2001 dilanjutkan dengan Disertasi 2003, secara konsisten mendorong mahasiswa Magister (S2), Strata Tiga (S3) UIN Imam Bonjol untuk mengkaji Syekh Burhanuddin dan jaringannya, kini puluhan sudah tersedia di perpustakaan dan jurnal internasional. 


Pada 21 Desember 2021, saya menulis artikel Internasionalisasi Syafar, dan 3 September 2022 dalam rapat dengan pembina YISC dipublikasi pula tulisan YISC Reborn.


Artinya, lahir semangat baru untuk kebangkitan Syekh Burhanuddin sebagai modal sosial dan keagamaan bagi kebaikan lebih luas masyarakat Padang Pariaman. 


KONDISI SAAT INI


Yayasan Islamic Centre (YISC) Padang Pariaman adalah lembaga sosial yang didirikan oleh ulama, tokoh masyarakat atas dukungan penuh Pemerintah Daerah Padang Pariaman sejak 1978 lalu.


Pada awalnya bernama Yayasan Dana Sosial Islam (YDSI) dan pengurusnya ditunjuk oleh Bupati. Kiprah YISC menyelenggarakan Perguruan Tinggi STIT SB, Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah masih terus berjalan, walau belum dapat maksimal, dan cendrung menurun. 


Sehingga, tantangan kelembagaan, perubahan masyarakat dan regulasi yang mengharuskan Perguruan Tinggi, dikelola Yayasan mandiri, maka sejak 6 tahun terakhir diganti dengan Yayasan Islamic Centre (YISC), kini memasuki priode kedua. 


STIT SB dengan 2 (dua) Program Studi (Prodi). Yakni Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Anak Usia Dini Islam yang telah memiliki mahasiswa 500 orang. Sedangkan, MA dan MTs setiap tahun rata-rata 100 orang, dengan dosen dan guru swasta, dan ada beberapa Dosen dan guru sertifikasi bantuan Kementrian Agama dan Kopertais wilayah 6 VI Sumatera Barat.


Lokasi kampus di Kampung Baru Kota Pariaman, status tanah asset Pemerintah Daerah Padang Pariaman (dalam proses pengajuan Hibah ke Pemda Padang Pariaman). Kondisi ruang belajar yang belum banyak perubahan (tertinggal dibanding Kampus Perguruan Tinggi Swasta Yayasan lain di Pariaman).   


Berkenaan pembiayaan penyelenggaraan dominan berasal dari mahasiswa dan siswa yang akumulasi uang masuk dan keluarnya belum mancapai angka sesuai regulasi formal.


Keikhlasan Pimpinan STIT, Kepala Sekolah, Dosen, Guru dan tenaga kependidikan menerima jasa profesi belum secukupnya. Hal itu, juga kunci utama dapat bertahannya 3 (tiga) institusi Pendidikan Islam yang diasuh YISC selama 44 tahun ini, dengan alumninya yang ribuan sudah mengabdi di berbagai instansi. 


PENGEMBANGAN 


Modal sipritual, intelektual, sosial, historis dan dukungan Pemerintah Daerah bersama masyarakat untuk PULIH LEBIH CEPAT, BANGKIT LEBIH KUAT, dalam semangat YISC Reborn tentu perlu terus dikordinasikan, dicari inovasi dan dilakukan pergerakkan mendayagunakan potensi nama besar Syekh Burhanuddin dan memory sejarah SYARAK MANDAKI ADAT MENURUN. 


Kabupaten Padang Pariaman 3 (tiga) abad lalu, adalah pusat dan pintu gerbang kemajuan ekonomi, sosial budaya dan pengembangan Islam di Minangkabau. Untuk itu ada 4 (empat) program prioritas untuk bangkit dan mendorong percepatan Padang Pariaman Berjaya. 


Pertama, Kedudukan Tanah Lokasi Kampus Kampus STIT SB di Kampung Baru secara formal tempat berdirinya pada asset Pemda Padang Pariaman. Kepastian status tanah adalah prasyarat utama untuk bantuan apapun jua. 


Pengajuan hibah YISC tentu akan mendapatkan perhatian Pemda, alasan sejarah dan sudah dtempati STIT SB sejak tahun 1978, sudah 44 tahun adalah pertimbangan yang menguatkan hibah.  


Percepatan STIT SB menjadi Institut dan atau IAIN Syekh Burhanuddin adalah memerlukan tanah pengembangan menjadi IAIN menimal 10 hektar yang dihibahkan kepada Kementrian Agama. Persyaratan tekhnis lainnya dapat terpenuhi oleh Yayasan dan STIT SB. 


Kedua, pengembangan Perguruan Tinggi STIT SB. STIT SB kondisi sekarang dapat dikembangkan menjadi Institut SB dengan menambah 2 prodi yang berbeda. 


STIT SB dapat dijadikan Perguruan Tinggi Negeri, IAIN Syekh Burhanuddin yang persyaratan tekhnis sudah bisa dipenuhi, kecuali penyediaan lahan pengembangan 10 hektar tanah yang dihibahkan ke Kementrian Agama RI. 


Ketiga, pengembangan Madrasah dan Sekolah. Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah terus dibina lebih baik dan pimpinan diminta melakukan inovasi yang menjadikan Madrasah ini bisa bangkit dan maju lebih baik.


Bersamaan itu, YISC dapat dengan mengajak pihak-pihak yang berkompeten untuk mengembangkan Pendidikan Dasar dan Menengah Terpadu. Contohnya PIAUD, TK Terpadu, SD Terpadu, SMP dan SMA Terpadu dan lainnya. 


Keempat, penguatan pendirian Institut Pendirian Syekh Burhanuddin. Karena, Institut adalah gagasan besar yang ditujukan untuk menjadi lembaga pengembangan sumber daya umat dengan focus pada Penguatan Memoar Syekh Burhanuddin melalui Pusat Edukasi dan Literasi Syekh Burhanuddin.


Juga, pengembangan jaringan nasional dan internasional pendekatan Islami, akademis, dan sosiologis.Pengembangan kehidupan beragama, budaya dan kearifan lokal, pendayagunaan potensi wisata religi ke Makam Syekh Burhanuddin dan riset-riset berkelanjutan bagi peningkatan kualitas  kehidupan beragama, pendidikan agama, penguatan hidup beradat, berbudaya dalam arti yang seluasnya. 


Pengembangan di atas memerlukan kesadaran kolektif semua bahwa potensi religius, aktivas keagamaan, keunikan dan soliditas keagamaan yang sudah kuat adalah modal sosial yang dapat menjadi sumber kehidupan dan ekonomi keumatan masyarakat Padang Pariaman.


HARAPAN 


Bahagian terakhir, ingin kami sampaikan harapan kepada Pemerintah Daerah, masyarakat dan tentu lebih dahulu diawali oleh mereka  yang menisbahkan diri dan menyediakan waktu untuk memperkuat nilai-nilai keislaman. Seperti yang sudah dikembangkan Syekh Burhanuddin, diantaranya YISC dan STIT SB yang sudah membumi sejak 1978 lalu, dengan usia 44 tahun sudah cukup dewasa. 


Pertama, menyediakan waktu, dan memaksimalkan keikhlasan untuk mendayagunakan evindensi keagamaan, Syafar, Makam Syekh Burhanuddin, jaringan ulama tarekat, asosiasi makam wali nasional, edukasi dan literasi SB. Kesemuanya, untuk menghadirkan kehidupan beragama yang baik, dan mendorong wisata religius dan penguatan budaya dan kearifan lokal.  


Kedua, mendorong partisipasi luas tokoh dan cendikiawan Padang Pariaman untuk berkalaborasi mendayagunakan YISC, STIT SB dan Syekh Burhanuddin.  Kehadiran Institut sebagai Perguruan Tinggi Islam, modal sosial kolektif masyarakat Padang Pariaman yang didirikan oleh tokoh masyarakat bersama Pemerintah Daerah Padang Pariaman sejak 1978 lalu. 


Ketiga, mohon dukungan Pemerintah Daerah agar meminta 103 nagari mengirimkan 1 atau 2 anak nagari dalam setahun untuk berkuliah di STIT SB. Artinya, dengan memaksimalkan dana pemberdayaan SDM Pemerintah nagari, dan atau kerjasama dengan UPZ Nagari, perantau dan sebagainya.


Keempat, Pimpinan STIT SB diharapkan untuk bekerja lebih keras lagi dengan membuka prodi baru berbasis dunia kerja masa depan dan sekaligus menyiapkan diri menjadi Institut SB.


Pimpinan STIT SB dapat lebih kuat lagi mencapai mahasiwa aktif 1.000 orang di tahun 2023/2024 mendatang. Hal itu, sebagai upaya peningkatan layanan kampus ini. Tentu, ada dukungan masyarakat dan pemerintah daerah. Sehingga sangat diharapkan bagi kehadiran Perguruan Tinggi Islam Negeri IAIN Syekh Burhanuddin Padang Pariaman


Kelima, Pemda Padang Pariaman diharapkan memberikan dukungan berupa hibah tanah tempat berdiri STIT di Kampung Baru Kota Pariaman. Karena, sejarah berdirinya STIT SB atas dukungan penuh Pemda Padang Pariaman, guna mendapatkan dukungan pembangunan dari Kementrian Agama. 


Secara bersama Pemda, Yayasan dan STIT SB terus meningkatkan peran serta pasentren sebagai soko guru pengembangan dan peningkatan pendidikan berbasis agamais di Padang Pariaman. 


Banyak hal yang bisa dilakukan, namun secara ringkas kita ingin tegaskan, bahwa amanah pembina bagi kami, semata untuk mendarmabakhtikan diri bagi penguatan keislaman di Padang Pariaman.


Hal demikian, sebagai titik awal Islamisasi Minangkabau, yang sekaligus akan berdampak pada ekonomi dan sosial budaya, yang tentunya perlu dukungan, kerjasama yang baik semua pihak.