Tanah Datar Targetkan Tahun 2024 Prevalensi Stunting di Angka 11.5 Persen -->

Tanah Datar Targetkan Tahun 2024 Prevalensi Stunting di Angka 11.5 Persen

Minggu, 30 Oktober 2022

Konsolidasi dalam percepatan penurunan Stunting tahun 2022, di Ballroom Emersia Hotel, Minggu (30/10) 

 

Tanah Datar, fajarsumbar.com - Wakil Bupati (Wabup) Tanah Datar Richi Aprian, SH. MH, membuka acara Konsolidasi dengan Pemangku Kebijakan Tingkat Daerah (Kemitraan) dalam Percepatan Penurunan Stunting tahun 2022, yang diikuti oleh Tokoh Masyarakat, yang dilaksanakan di Ballroom Emersia Hotel Batusangkar, Minggu (30/10/22). 


Kegiatan tersebut dalam rangka kerjasama Anggota DPR RI Komisi IX, dr. Suir Syam, M.Kes. MMR, dari Fraksi Gerindra, dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), dalam program percepatan penurunan Stunting di Sumbar. 


Wabup sampaikan, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menargetkan angka prevelensi stunting di Tanah Datar, turun menjadi 11.5 persen di Tahun 2024. "Target prevalensi dari Presiden itu sebesar 14 persen, tapi kami (Pemerintah Tanah Datar) memasang target 10 persen dan InsyaAllah, tahun 2024 angka prevelensi di 11.5 persen, karena kita merupakan sentra pangan," terangnya. 


Disebutkan Wabup Richi, saat ini prevelensi Tanah Datar berada di angka 21.5 persen berada di bawah angka Sumbar dan Indonesia masing-masing 23.3 persen dan 24 persen. 


Meski demikian, menurut Wabup yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Tanah Datar, angka prevalensi Tanah Datar harus lebih rendah dari itu, karena Tanah Datar adalah sentra pangan Sumbar. 


"Meskipun kita (Tanah Datar) di bawah angka itu (prevalensi Sumbar dan Nasional), angka 21.5 persen masih angka yang besar, sebab kita adalah sentra pangan Sumbar, lumbung beras, sayur, buah dan protein," jelas Richi Aprian. 


Wabup juga menyebut, kerja sama dari seluruh pihak terkait sangat dibutuhkan, untuk mewujudkan target tersebut. Perlu kerja keras kita semua, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerjasama seluruh pihak terkait, "Basamo mangko manjadi," tegasnya. 


Sementara itu, anggota DPR RI Komisi IX dr. H Suir Syam menjelaskan, bonus demografi Indonesia tahun 2045, menjadi alasan utama gencarnya penurunan Stunting di Indonesia. 


"Pada tahun 2045 dari data penduduk kita, di Indonesia lebih banyak umur angkatan kerja daripada angkatan tidak bekerja, itu namanya bonus demografi, ada 2 kemungkinan, kalo angkatan kerja sehat cerdas maka Indonesia akan sejahtera, Sebaliknya, maka akan timbul pengganguran, maka generasi itu bisa kita sebut generasi malapetaka," terang Suir Syam. 


Untuk itu, kata Suir Syam, kita perlu menyiapkan generasi yang sehat dan cerdas dari sekarang. "Untuk itu kita perlu menyiapkan generasi kita menuju generasi emas. Jangan sampai Stunting, dimulai dari 1000 hari kehidupan pertama, yang menentukan masa depan seorang manusia. Juga butuh pembekalan untuk anak muda dan pasangan yang akan menikah," katanya. 


Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumbar Fatmawati, ST. M.Eng, Kepala Dinas PMDPPKB Tanah Datar Drs. Nofenril dan undangan lainnya. (F12)