Kepuasan Publik AS terhadap Joe Biden Anjlok, Partai Republik Diprediksi Rebut Kendali Kongres -->

Kepuasan Publik AS terhadap Joe Biden Anjlok, Partai Republik Diprediksi Rebut Kendali Kongres

Selasa, 08 November 2022

 

Presiden AS Joe Biden.



WASHINGTON DC – Tingkat kepuasan publik AS terhadap kinerja Presiden Joe Biden anjlok menjadi 39 persen. Hal itu terungkap dalam jajak pendapat oleh Reuters/Ipsos pada Senin (7/11/2022). 


Hasil tersebut semakin memperkuat prediksi sebagian kalangan bahwa Partai Demokrat yang menjadi kendaraan Biden selama ini bakal menelan kekalahan dalam Pemilihan Sela AS yang bakal digelar pada Selasa (8/11/2022).


Jajak pendapat nasional oleh Reuters/Ipsos yang berlangsung selama dua hari itu menemukan bahwa kepuasan orang Amerika terhadap kinerja Biden turun satu poin. Angka itu mendekati titik terendah selama masa kepresidenannya, sebagaimana dikutip iNews.id.


Ketidakpopuleran Biden turut mendorong pandangan bahwa Partai Republik akan memenangkan kendali DPR AS dan mungkin juga Senat AS pada pemilu sela kali ini.


Pusat Studi Politik Universitas Virginia pada Senin memperkirakan bahwa Partai Republik akan dengan mudah memenangkan mayoritas di DPR AS. Partai itu diperkirakan bakal memperoleh 24 kursi, dan akan menambah mayoritas tipis di Senat AS.


Jika itu terjadi, kontrol terhadap Kongres AS akan memberikan kekuatan bagi Partai Republik untuk menghalangi bahkan menyetop berbagai agenda Biden di legislatif.


Biden mulai menjabat kepala negara AS pada Januari 2021, di tengah pandemi Covid-19. Masa jabatannya ditandai dengan sejumlah tantangan ekonomi akibat krisis kesehatan global, termasuk melonjaknya inflasi. Tahun ini, tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya sempat turun hingga menjadi 36 persen pada Mei dan Juni.


Dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos minggu ini, sekitar sepertiga responden menganggap ekonomi sebagai masalah terbesar negara. Sementara satu dari 10 responden menyebut kejahatan sebagai persoalan besar AS saat ini. 


Sekitar satu dari 15 responden mengatakan, masalah terbesar Amerika itu adalah berakhirnya hak aborsi nasional, menyusul keputusan Mahkamah Agung pada Juni lalu yang membatalkan hak tersebut.


Jajak pendapat Reuters/Ipsos dilakukan secara daring dalam bahasa Inggris di seluruh Amerika Serikat. Survei ini melibatkan 1.004 orang dewasa sebagai responden, termasuk 424 pemilih Partai Demokrat dan 390 pemilih Partai Republik. (*)