Kepala BMKG: Salju Abadi di Puncak Jaya Terancam Kepunahan Akibat Perubahan Iklim -->

AdSense New

Kepala BMKG: Salju Abadi di Puncak Jaya Terancam Kepunahan Akibat Perubahan Iklim

Rabu, 23 Agustus 2023
Salju abadi Puncak Jaya, Papua, dekati kepunahan


Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa kondisi "salju abadi" atau tutupan es di Puncak Jaya, Papua, semakin mengkhawatirkan akibat dampak perubahan iklim. Fenomena El Nino yang terjadi tahun ini diperkirakan dapat mempercepat proses pencairan tutupan es tersebut. Bahkan, saat terjadi El Nino yang kuat pada tahun 2015-2016, tingkat penipisan es mencapai 5 meter per tahun.


"Ekosistem di sekitar salju abadi menjadi rentan dan terancam. Perubahan iklim juga berdampak pada kehidupan masyarakat adat setempat yang telah lama bergantung pada keseimbangan lingkungan dan sumber daya alam di wilayah tersebut," ujar Dwikorita dalam pernyataannya pada Rabu (23/8/2023).


Dwikorita menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunikan karena menjadi lokasi di wilayah tropis yang memiliki salju abadi. Tutupan es di Puncak Jaya adalah sebuah fenomena alam yang menarik perhatian ilmuwan, peneliti, dan pecinta alam. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, dilaporkan terjadi penurunan signifikan dalam luas area salju abadi tersebut.


Sejak tahun 2010, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG bekerja sama dengan Ohio State University, AS, telah melakukan studi terkait analisis paleo-klimatologi berdasarkan inti es (ice core) pada gletser Puncak Jaya. BMKG, dengan dukungan PT Freeport Indonesia, terus melakukan pemantauan berkala terhadap luas dan ketebalan gletser di Puncak Jaya.


Dari hasil pemantauan tersebut, Dwikorita menyampaikan bahwa tutupan es di Puncak Jaya mengalami pencairan dan menuju kepunahan. Pada tahun 2010, tebal es diperkirakan mencapai 32 meter dan laju penipisan es sekitar 1 meter per tahun pada periode 2010-2015. Selanjutnya, dari Studi Dampak Perubahan Iklim pada Gletser di Puncak Jaya, ditemukan bahwa dalam kurun waktu 2016-2022, laju penipisan es meningkat menjadi sekitar 2,5 meter per tahun. Luas tutupan es pada tahun 2022 diperkirakan mencapai sekitar 0,23 kilometer persegi dan terus mengalami pencairan.


Dwikorita juga menyoroti bahwa pencairan es di pegunungan ini memiliki dampak nyata terhadap peningkatan tinggi permukaan laut secara global. Ia menekankan perlunya kesadaran bersama dalam menjaga dan melindungi lingkungan. Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim harus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan entitas terkait lainnya. Pengurangan emisi Gas Rumah Kaca dan penerapan energi baru dan terbarukan menjadi langkah krusial yang harus segera diambil.


"Kita perlu terus menjaga dan mengendalikan laju kenaikan suhu dengan cara mengubah energi fosil menjadi energi yang lebih ramah lingkungan," tegas Dwikorita.(des)