Kurikulum Merdeka Memberi Ruang Berinovasi dan Berimprovisasi Dalam Proses Pembelajaran (2) -->

AdSense New

Kurikulum Merdeka Memberi Ruang Berinovasi dan Berimprovisasi Dalam Proses Pembelajaran (2)

Sabtu, 26 Agustus 2023
Oleh ; Alfian Tarmizi, M.Pd
Kepala SDN 17 Ulakan Tapakih
Kabupaten Padang Pariaman


“Pendidikan itu tempat mengolah cipta, karsa dan raga untuk mencapai will being peserta didik” (Al-Tary), 2023


“Oke anak-anak...kita masuk kekegiatan inti dari pembelajaran hari ini...”

“Silahkan duduk berdasarkan kelompoknya dalam hitungan 15 ..!  Satu, dua, tiga...lima belas...terima kasih sudah duduk dengan rapi...”


Kelompok satu, disilahkan ambil materinya ke depan, lalu baca dan diskusikan bersama... Kelompok dua, tiga, empat juga demikian, silahkan diambil materinya... 


Semua terlibat aktif dalam diskusi selama 15 menit. Penilaian dimulai dari sekarang. Satu, dua, tiga...mulai diskusi...”


Tepuk satu...(Plok)

Tepuk dua...(Plok...Plok...)

Tepuk tiga...(Plok...Plok...Plok...)


“Oke, waktunya habis... Sekarang saatnya persentasi dari masing-masing kelompok... dimulai dari kelompok satu... Yang bertugas menanggapi kelompok dua. Kelompok yang lain sebagai observer...”


“Iya, beri tepuk tangan yang meriah buat kelompok satu... Bagus sekali... Silahkan kelompok dua menanggapi...”


“Terima kasih kelompok dua, sudah menanggapi dengan baik... Jadi, kelompok satu menjelaskan tentang bla...bla...bla... Kelompok dua telah menanggapi, bahwa menurut mereka bli...bli...bli...”

“Kelompok observer mana suaramu... ayo kelompok tiga angkat bicara...”


“Super sekali, semua kelompok hebat dan bagus semua... Nah, sekarang dengar penjelasan guru...”

“Mana yel-yelnya...”

“Guruku Hebat...Muridku Pintar...”

“Plok...Plok...Plok...”


Begitulah suasana pembelajaran dengan differensiasi konten/materi, differensiasi metode dan proses. Siswa terlibat aktif secara langsung, dibawah kendali guru sebagai host. Guru bertindak sebagai motivator, mediator, moderator, inspirastor dan pasilitator. 


Guru menggiring siswa ke satu tujuan, yaitu mencari solusi dari permasalahan yang dimunculkan bersama, berdasarkan differensiasi materi yang telah dirancang guru sebelumnya. Di sini, akan terlihat kompetensi guru, baik secara soasial-emosional, didaktik-metodik dan profesional.


Dengan gaya pembelajaran berdifferensiasi ini, siswa diajak untuk mempergunakan nalar kritis mereka. Untuk memecahkan suatu permasalahan, sehingga siswa jadi pribadi yang tangguh dikemudian hari nantinya. 


Dalam proses pembelajaran yang melibatkan siswa dalam berdiskusi akan membentuk siaswa yang egaliter, toleransi dan terbuka terhadap pendapat orang lain.


Ini bisa dilakukan guru bila memiliki kompetensi, persiapan yang matang, penelaahan sebelum merancang pembelajaran, pendiagnosaan terhadap gaya/profil belajar siswa serta tingkat kompleksitas intake siswa.


Jadi, ungkapan ujaran mengatakan bahwa guru tua semalam dari murid, tidak mampan di era kekinian. Apalagi guru menyebut, hanya tua beberapa menit dari siswa. Hasil apa yang bisa kita harapkan dari perspektif guru yang beginian...?


Agaknya, inilah salah-satu alasan, kenapa kurikulum harus berubah tiap dekade. Karena, tidak relefan lagi dengan zaman. Sudah ketinggalan zaman. Tuntutan zaman sudah melampaui ekspektasi guru masa lampau. Guru sekarang, merupakan produk guru zaman dahulu. Sementara zaman now...?  Justru, dituntut guru yang kreatif, inovatif, kolaboratif dan inspiratif. 


Sidang pembaca yang budiman...

Banyak sumber yang bisa kita jadikan sebagai rujukan untuk menjadi guru zaman now. Tiang dan modal dasarnya, ada pada diri kita sendiri. Apakah kita mau berubah dengan mengikuti perubahan ...? Atau tenggelam dalam perubahan itu sendiri. 


Kurikulum Merdeka sudah memberikan fasilitas dengan Aplikasi Platform Medeka Mengajar (PMM). Di dalamnya banyak konten-konten yang mendukung kesiapan guru dalam mengajar. Baik dari segi perangkat kurikulum, media belajar, metode mengajar maupun assesmen pembelajaran. Kita tinggal unduh di playstore HP, login dengan akun ID belajar. 


Melalui akhir tulisan ini, penulis ingin menyampaikan mengubah dunia gampang. Mengajak manusia untuk bersosmed lebih gampang lagi. Menggunakan aplikasi Tik-tok dan jadi youtuber mudah.


Namun demikian, mengajak guru untuk mengubah main set pola pikir untuk maju itu ... ? , tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang mau tergerak hatinya untuk berubah. Tetapi, lebih banyak lagi yang memprovokatori, pro status quo. Bahkan, parahnya lagi,  "antah-antah je Kurikulum Merdeka ko mah. Isuak ndak laku gai tu doh" gerutu dikalangan mereka. Atau, Emoh keluar dari zona nyaman, cari muka. Akhirnya, lagu Dian Pisesa mengalun kembali... ? Aku Masih ... Seperti yang Dulu... !


Sekali lagi, Pilihan ada di tangan kita. Berubah atau tidak... ?



Sumber Bacaan:

- Eko Adinuryadin, M.Pd, Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara, SMAN 1 Jatilawang, 2023.

- Rostina Mansyur, M.Pd, Filosofi Pendikan Ki Hajar Dewantara, SMPN 3 Sunggu Minahasa, 2023.

- Alfian Tarmizi, M.Pd, Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara, FajarSumbar.com, 2022.