![]() |
| Suasana peserta anak didik dengan guru-guru di halaman MTs Swasta Maninjau, Agam (foto.ist). |
Pergerakan Pendidikan Islam di Maninjau, tepatnya di Panyinggahan-Kubu Baru berawal dari Perguruan Rasyidiyah yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Rasyid pada tahun 1927, setelah kembali dari Mesir bersama Abdul Karim Amrullah (Ayah Buya Hamka).
Namun umur beliau sangat singkat, dan meninggal dunia, setelah dua tahun memimpin perguruan ini, maka beliau digantikan oleh Buya Abdul Madjid.
Perguruan ini berubah menjadi Madrasah Sumatera Thawalib yang dipimpin oleh Buya H. Oedin Rahmani. Pada era Orde Baru madrasah ini berubah lagi menjadi Madrasah Tsanawiyah Maninjau dan dipimpin oleh Buya Zainal Burhan sampai tahun 2003.
Madrasah ini memiliki alumni yang sangat banyak dan telah sukses di berbagai bidang. Menurut keterangan Prof. Dr. Effianora, M.Si, bahwa Perguruan Rasyidiyah didirikan oleh H. Muhammad Rasyid, abo kami.
Abo, panggilan kakek di daerah Maninjau, sekembali dari Mesir bersama ayah Buya Hamka (Haji Abdul Karim Amrullah). Kemudian perguruan ini berubah menjadi Sumatera Thawalib, yang akhirnya menjadi Madrasah Tsanawiyah Maninjau.
Salah seorang murid H. Muhammad Rasyid yang berhasil saat itu adalah Sabilal Rasyad, Menteri Perburuhan pada zaman Presiden Ir. Soekarno.
Pada era Madrasah Sumatera Thawalib dipimpin Buya H. Oedin Rahmani, juga melahirkan murid yang hebat, yaitu Hj. Rasuna Said, pahlawan kemerdekaan RI.
Haji Oedin, begitu beliau dipanggil, adalah seorang orator yang ulung. Di sini Hj. Rasuna Said digodok menjadi orator yang ulung pula, dan di masanya beliau terkenal sebagai singa podium.
Barangkali, inilah yang menginspirasi Bapak Zainal Burhan mempertahankan muhadarah setiap Jumat di Madrasah ini. Sehingga tamatan-tamatan Madrasah Tsanawiyah Maninjau ini melahirkan siswa-siswa yang pandai berpidato.
Menurut Dra.Wirda Radjab, selaku tokoh masyarakat Maninjau, MTsS Maninjau sudah beberapa kali diusulkan menjadi madrasah negeri. Namun, selalu terkendala dengan status tanah. Pada, akhirnya MTsS Maninjau dikelola oleh suatu Yayasan bentukan masyarakat Nagari Maninjau. Hal demikian, tentu mengalami pasang-surut yang signifikan.
Pada saat ini, MTsS Maninjau mengalami kondisi yang memprihatinkan, baik dari sisi kondisi pisik Madrasah, siswa, guru, maupun sarana prasarana pembelajaran.
"Sudah saatnya para alumni MTsS Maninjau turun tangan untuk ambil bagian membangun madrasah ini kembali," tuturnya ketika berbicara via telepon dengan salah seorang alumni MTsS Maninjau, yaitu H. Suhendrizal, MA, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kabupaten Padang Pariaman.
Ketika awak media melakukan konfirmasi kepada H. Suhendrizal, MA, beliau membenarkan keterangan ini. Ia menuturkan bahwa telah mengambil langkah-langkah yang strategis untuk membenahi kembali madrasah ini.
"Komunikasi telah kita bangun dengan para perantau Maninjau dan para alumni untuk menggalang dana. Penanggung jawab penggalangan dana alumni kita serahkan kepada Syafnir, MM, bersama alumni yang lain. Sedangkan, tanggung jawab lapangan kita serahkan sepenuhnya kepada Ketua Yayasan, Mangkuto Ameh beserta Ketua Pemuda Panyinggahan Noprizal, M.Si. Ketiga mereka itu merupakan alumni MTsS Maninjau," katanya. (*)
Komentar