Menteri Investasi Bahlil Lahadalia Dipanggil Terkait Dugaan Suap Izin Pertambangan -->

Iklan Atas

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia Dipanggil Terkait Dugaan Suap Izin Pertambangan

Jumat, 08 Maret 2024

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.


Jakarta - Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, kembali menjadi perhatian Komisi VII DPR dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahlil dipanggil terkait dugaan suap terkait izin pertambangan.


Bahlil akan dipanggil dalam kapasitasnya sebagai Ketua Satuan Tugas Penataan Penggunaan Lahan dan Penataan Investasi.


Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Bahlil memiliki total kekayaan mencapai Rp302,4 miliar. Kekayaan Bahlil ini tercatat pada 31 Desember 2022.


Kekayaan Bahlil terdiri dari tanah dan bangunan senilai Rp284 miliar, terdiri dari 18 properti yang tersebar di Kota Jayapura, Gianyar, Sragen, hingga Jakarta Selatan.


Selain itu, alat dan transportasi milik Bahlil tercatat senilai Rp115,6 juta. Dia juga memiliki surat berharga sebesar Rp2,01 miliar, kas dan setara kas senilai Rp16,2 miliar, dan tidak memiliki utang, sehingga total kekayaannya mencapai Rp302,4 miliar.


Dilaporkan bahwa Bahlil diduga menyalahgunakan wewenangnya sebagai ketua satgas dalam mengevaluasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) serta Hak Guna Usaha (HGU) lahan sawit beberapa perusahaan.


Staf Khusus Menteri Investasi dan Kepala BKPM, Tina Talisa, juga telah memberikan tanggapannya terkait dugaan permainan izin tambang yang dilakukan oleh Bahlil Lahadalia.


"Pak Menteri Bahlil merasa keberatan karena beberapa informasi yang disampaikan ke publik mengarah pada tuduhan dan fitnah, serta banyak informasi yang belum terverifikasi," kata Tina dalam keterangan resmi pada Senin, 4 Maret 2024.


Sebagai informasi tambahan, Bahlil memulai karirnya sebagai sopir angkot sebelum akhirnya membuka usaha sendiri. Kesuksesannya mulai menanjak ketika ia terpilih sebagai Ketua Hipmi.


Setelah memiliki pengalaman dalam berbagai organisasi dan memperoleh gaji yang tinggi, Bahlil memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mendirikan perusahaan sendiri. Ini adalah awal dari kesuksesan Bahlil.


Melihat potensi sumber daya alam yang melimpah di tanah Papua, Bahlil Lahadalia melihat peluang untuk membuka usaha. Saat ini, ia memiliki 10 perusahaan di berbagai bidang di bawah PT Rifa Capital sebagai perusahaan induk.


Bahlil adalah lulusan dari Sekolah Tinggi Ekonomi Port Numbay di Jayapura, Papua, dan juga Universitas Cendrawasih di Jayapura untuk gelar masternya.(BY)