BNPB Hentikan Peledakan Batu Vulkanik di Gunung Marapi -->

Iklan Atas

BNPB Hentikan Peledakan Batu Vulkanik di Gunung Marapi

Kamis, 20 Juni 2024

 

Tenaga Ahli BNPB, Kolonel Inf Hery Setiono (memakai baju oranye) memimpin briefing pelaksanaan demolish di Batu Anguih, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) pada Rabu (29/5/2024) siang.


Padang - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa mereka tidak akan melanjutkan proses penghancuran atau peledakan batuan vulkanik berukuran besar di sekitar kaki dan lereng Gunung Marapi, Sumatera Barat.


"Program penghancuran memang sudah dihentikan," kata Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB, Agus Riyanto, Rabu (19/6/2024) siang.


Keputusan untuk menghentikan peledakan batuan ini diambil setelah melalui berbagai pertimbangan dan kajian dari berbagai pihak. Saat pertama kali dilakukan di Kabupaten Agam, beberapa batu tidak langsung terbelah atau meledak.


Hasil evaluasi BNPB menunjukkan ada beberapa batuan besar yang sangat kuat menancap di dalam tanah sehingga tidak berhasil diledakkan. Jika dipaksakan, ada kekhawatiran bahwa hal tersebut bisa merusak struktur lain di sekitarnya.


Pada akhir Mei 2024, saat peledakan pertama kali dilakukan, tim berhasil meledakkan dua hingga tiga kali batuan material Gunung Marapi yang menumpuk di sekitar lereng gunung api aktif tersebut.


"Setidaknya, batuan besar di bagian hulu Kabupaten Agam sudah tertangani dan diharapkan bisa mengurangi risiko," tambahnya.


Penghancuran batuan ini merupakan salah satu dari empat upaya yang disepakati oleh para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana banjir bandang lahar dingin Gunung Marapi yang melanda Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang.


BNPB menyadari bahwa untuk melakukan normalisasi sungai yang berhulu dari Gunung Marapi membutuhkan tenaga, usaha, dan waktu yang cukup panjang.


"Oleh karena itu, BNPB akan fokus pada penanganan prioritas seperti pembangunan sabo dam dan pemasangan alat pendeteksi dini atau early warning system," jelasnya.


Upaya-upaya ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam penanganan atau mitigasi bencana, khususnya untuk mengurangi potensi ancaman banjir lahar dingin yang dapat menerjang permukiman warga.(des)