Rahasia di Balik Harga Murah Mobil Listrik China -->

Iklan Atas

Rahasia di Balik Harga Murah Mobil Listrik China

Rabu, 26 Juni 2024

Alasan mobil listrik China harganya murah, digelontorkan subsidi hingga Rp3 ribu triliun. 


Jakarta - Produsen mobil listrik asal China memasarkan produk mereka ke berbagai negara dengan harga yang lebih terjangkau. Bahkan, mobil listrik dengan teknologi dan kualitas setara dengan merek lain dapat dijual dengan harga yang lebih murah.


Melansir Carscoops, Selasa (25/6/2024), terungkap alasan mengapa mobil listrik asal China bisa dijual murah berdasarkan analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Terungkap bahwa pemerintah China telah menggelontorkan dana sebesar 230,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.480 triliun untuk menyubsidi kendaraan listrik antara tahun 2009 hingga 2023.


Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan dana yang diberikan pemerintah Amerika Serikat dalam bentuk kredit pajak kendaraan bersih tahun ini yang hanya sebesar 1 miliar dolar AS (Rp15 triliun).


Lembaga analisis tersebut juga memperkirakan bahwa hanya 6,74 miliar dolar AS (Rp101 triliun) yang dihabiskan antara 2009 dan 2017. Namun, jumlah ini naik tiga kali lipat selama 2018-2020, dan kemudian meningkat signifikan sejak 2021.


Meskipun angka tersebut hanya perkiraan, CSIS mencatat bahwa pemerintah China mendukung kendaraan listrik dengan berbagai cara. Ini termasuk potongan harga, pembebasan pajak penjualan, serta pendanaan untuk infrastruktur.


Selain itu, pemerintah juga membeli kendaraan listrik untuk keperluan sendiri dan mendukung program penelitian serta pengembangan produsen mobil. Tingkat dukungan bervariasi, tetapi pemerintah telah meningkatkan pengeluaran untuk program R&D dalam beberapa tahun terakhir.


Antara 2009 dan 2017, tercatat hanya 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp30 triliun yang dihabiskan. Namun, angka tersebut melonjak menjadi 3,6 miliar dolar AS pada 2018, dan naik menjadi 4,3 miliar dolar AS pada tahun lalu.


CSIS menyatakan bahwa perkiraan mereka "sangat konservatif" dan tidak memperhitungkan semua tingkat dukungan pemerintah. Ini termasuk insentif lokal, hadiah tanah, diskon listrik, dan subsidi pemasok.


Sebagai contoh, raksasa baterai CATL dilaporkan menerima subsidi sebesar 809,2 juta dolar AS tahun lalu. Jumlah tersebut lebih dari sepuluh kali lipat dari apa yang mereka dapatkan pada 2018 dan hampir dua kali lipat dari yang mereka terima pada 2022.


Hal ini telah menimbulkan masalah karena negara tersebut memiliki lebih dari 200 perusahaan kendaraan listrik, dan hanya sedikit yang menghasilkan keuntungan. Ada juga kelebihan pasokan kendaraan listrik, yang menjelaskan perang harga di dalam negeri serta meningkatnya fokus pada pasar internasional.(BY)