Kaspersky, Kejahatan Siber Meningkat 30% di Dunia Game Anak -->

Iklan Atas

Kaspersky, Kejahatan Siber Meningkat 30% di Dunia Game Anak

Selasa, 01 Oktober 2024

ilustrasi


Jakarta - Dunia permainan anak-anak, yang seharusnya menjadi area kreatif dan menyenangkan, kini menghadapi tantangan serius akibat aktivitas penjahat siber. Kaspersky, perusahaan keamanan digital terkemuka, baru-baru ini merilis temuan yang mengkhawatirkan terkait peningkatan eksploitasi dalam video game populer di kalangan anak-anak.


Analisis yang dilakukan oleh Kaspersky menunjukkan bahwa terdapat peningkatan 30% dalam kasus eksploitasi game anak pada semester pertama 2024 dibandingkan dengan semester kedua 2023. Lebih dari 132.000 pengguna muda telah menjadi sasaran kejahatan siber, dengan total 6,6 juta percobaan serangan terdeteksi antara Juli 2023 hingga Juni 2024.


Game seperti Minecraft, Roblox, dan Among Us menjadi target utama penjahat siber. Minecraft tercatat sebagai target dengan lebih dari 3 juta percobaan serangan. Para pelaku memanfaatkan popularitas game ini serta kecenderungan pemain untuk menggunakan cheat dan mod, yang sering kali diunduh dari situs web pihak ketiga.


Vasily M. Kolesnikov, seorang pakar keamanan dari Kaspersky, menekankan pentingnya edukasi tentang keamanan siber serta penggunaan solusi keamanan yang terpercaya. 


"Melalui penelitian kami, kami menyaksikan serangan terhadap anak-anak sebagai salah satu metode umum yang digunakan oleh penjahat dunia maya. Oleh karena itu, pendidikan tentang kebersihan siber dan penerapan solusi keamanan yang handal menjadi suatu keharusan untuk melindungi anak-anak di lingkungan daring," ujarnya.


Penipuan yang umum terjadi dalam dunia game mencakup tawaran skin atau armor baru untuk meningkatkan keterampilan karakter pemain. Kaspersky menemukan penipuan yang memanfaatkan game populer Valorant dan YouTuber terkenal, Mr. Beast. Penipuan ini meminta para gamer muda untuk memasukkan login dan kata sandi akun game mereka, yang berpotensi mengakibatkan pencurian kredensial pengguna.


Tawaran mata uang dalam game juga merupakan modus penipuan yang banyak digunakan. Contohnya, penjahat mengeksploitasi merek Pokémon GO dengan meminta pengguna memasukkan nama akun game mereka dan mengikuti survei palsu. Proses ini mengarahkan pengguna ke situs web palsu yang menjanjikan hadiah atau undian gratis, yang sebenarnya adalah jebakan untuk penipuan yang lebih berbahaya.


Lebih mengkhawatirkan lagi, penjahat siber kini semakin banyak menggunakan AI untuk mengotomatisasi dan mempersonalisasi serangan phishing yang ditujukan kepada gamer muda.


Perangkat phishing canggih yang dibuat dengan alat otomatis terus bermunculan di dark web, memudahkan lebih banyak penyerang untuk menyebarkan situs phishing yang meniru platform game populer.


Dengan meningkatnya ancaman siber ini, penting bagi orang tua dan pendidik untuk meningkatkan kewaspadaan dan memberikan edukasi mengenai keamanan digital kepada anak-anak. Penggunaan solusi keamanan yang andal, pemahaman tentang risiko daring, dan pengawasan yang bijaksana terhadap aktivitas bermain game anak menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari bahaya di dunia maya.(des*)