Bandung Barat - Belasan sapi milik para peternak di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dilaporkan mati secara tiba-tiba dalam tiga bulan terakhir. Dugaan sementara, kematian hewan ternak ini disebabkan oleh penyakit misterius yang belum teridentifikasi. Kerugian yang ditanggung para peternak ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Berdasarkan keterangan warga, setidaknya 16 ekor sapi telah mati akibat penyakit tersebut. Gejala yang muncul berbeda dari penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sempat mewabah sebelumnya, sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan peternak.
Iyus (43), salah satu peternak sapi perah di Kampung Pojok Girang, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, mengungkapkan bahwa salah satu sapinya mendadak mati pada Rabu (23/7/2025) sekitar pukul 11.00 WIB.
“Awalnya sapi tampak sehat. Tapi tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan mati, padahal baru tujuh hari melahirkan,” ujar Iyus pada Jumat (25/7/2025).
Iyus menambahkan, tidak ada tanda-tanda mencurigakan sebelum kejadian. Bahkan sapi berbobot 300 kilogram itu sempat diberi vitamin pada awal pekan. Ia memperkirakan kerugian yang dideritanya mencapai Rp30 juta.
Senada dengan Iyus, peternak lainnya, Enok (50), juga kehilangan sapi betinanya secara mendadak. Ia menceritakan bahwa sebelum mati, sapi tersebut mengalami pembengkakan pada kaki dan tidak bisa mengeluarkan susu. Setelah dibedah, ditemukan kelainan pada organ dalam seperti pembengkakan jantung serta gangguan pada limpa dan paru-paru.
“Sapi saya mati setelah melahirkan. Anak sapinya pun ikut tertular dan meninggal setelah mengalami kejang-kejang. Kami bingung, karena penyakit ini belum pernah muncul sebelumnya,” ujarnya.
Menurut Enok, penyakit ini tampaknya hanya menyerang sapi-sapi betina yang sedang hamil atau baru melahirkan. Kasus kematian terakhir terjadi beberapa hari lalu dan menimpa sapi milik tetangganya. Karena khawatir akan kerugian yang lebih besar, beberapa peternak bahkan memilih menjual sapi mereka dengan harga murah.
Peristiwa ini telah dilaporkan kepada pihak terkait. Para peternak berharap segera ada tindakan dan penanganan dari dinas terkait untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.(des*)