Molomang Padi Nak Tebik, Warisan Syukur dari Sawah Koto Rajo -->

Iklan Atas

Molomang Padi Nak Tebik, Warisan Syukur dari Sawah Koto Rajo

Rabu, 09 Juli 2025
.


Pasaman, fajarsumbar.com Saat pagi masih gelap, suara kayu terbakar perlahan terdengar di sudut-sudut Jorong VII Batu Tinggi, Nagari Koto Rajo. Asap tipis mengepul dari dapur-dapur sederhana. Para ibu dengan cekatan mengaduk santan dan mencuci beras ketan. Bambu-bambu yang telah dibersihkan disusun rapi di atas tungku. Di sinilah sebuah tradisi tua yang masih lestari dilangsungkan: molomang padi nak tebik.


Tradisi ini bukan sekadar memasak beras ketan dalam bambu. Bagi masyarakat setempat, molomang adalah bentuk penghormatan kepada alam, rasa syukur kepada Sang Pencipta, sekaligus harapan agar tanaman padi yang mulai berbuah tumbuh subur dan panen berlimpah.


Waktu pelaksanaannya tidak sembarangan. Hanya pada saat tanaman padi memasuki usia dua setengah bulan — masa di mana bulir mulai muncul — barulah masyarakat diperbolehkan melaksanakan molomang. Namun sebelum itu, para niniak mamak atau tetua adat terlebih dahulu bermusyawarah untuk menentukan hari pelaksanaan.


“Biasanya kami berdiskusi dulu, karena kegiatan ini harus dilakukan bersama, serentak. Setelah disepakati, barulah diumumkan ke masyarakat,” tutur Lilis (54), warga setempat yang telah belasan tahun terlibat dalam tradisi ini, Rabu (9/7/2025).


Sejak dini hari, para perempuan sibuk mempersiapkan bahan-bahan. Daun pisang dialas ke dalam bambu, beras ketan dimasukkan, dicampur santan dan sejumput garam. Proses memasak dilakukan perlahan agar lomang matang sempurna, menghasilkan aroma harum yang khas. Saat matahari belum menampakkan sinarnya, bunyi kayu terbakar dan aroma santan berpadu dengan canda anak-anak yang ikut hadir menyaksikan.


“Setiap molomang, anak-anak ikut berkumpul. Mereka biasanya main atau maraton pagi. Inilah satu-satunya waktu anak-anak bisa bebas berlarian di subuh hari,” ujar Lilis, tersenyum.


Namun tradisi ini bukan sekadar upacara masak-memasak. Ketika lomang telah matang, ujungnya dipotong dan dipisahkan. Potongan inilah yang kemudian ditaburkan ke sawah — tepat di antara bulir padi muda yang baru muncul. Tindakan simbolis ini dipercaya dapat mendatangkan keberkahan dan menyuburkan tanaman.


Ada pula kisah yang menambah kuatnya kepercayaan warga terhadap molomang. “Pernah satu waktu, ada warga yang tidak ikut molomang. Saat panen, hasil sawahnya jauh di bawah harapan. Sejak saat itu, hampir semua petani di sini selalu ikut,” ujar Lilis mengenang.


Tak berhenti di pagi hari, rangkaian molomang dilanjutkan pada malam harinya. Seusai salat Maghrib, masyarakat berkumpul di masjid dengan membawa satu bambu lomang. Di sinilah inti dari tradisi molomang: doa bersama. Imam masjid memimpin doa, memohon kepada Tuhan agar padi yang mulai berbuah diberi keselamatan hingga masa panen.


Setelah doa, seluruh warga menyantap lomang bersama-sama. Di sinilah rasa kebersamaan begitu terasa. Tua-muda, laki-laki dan perempuan, semua larut dalam suasana syukur dan kekeluargaan.


Tradisi molomang padi nak tebik bukanlah sekadar seremoni musiman. Ia adalah refleksi dari nilai-nilai kehidupan masyarakat Koto Rajo: kebersamaan, penghormatan terhadap alam, dan rasa syukur atas setiap proses kehidupan — bahkan pada tahap awal bulir padi.


Di tengah gempuran zaman yang kian modern, di mana mesin dan efisiensi menjadi ukuran utama, tradisi ini tetap hidup, tumbuh, dan diwariskan. Masyarakat Koto Rajo meyakini bahwa menjaga warisan leluhur adalah bagian dari menjaga jati diri mereka sebagai manusia yang hidup selaras dengan alam.


“Selama masih ada sawah, selama masih ada padi, insya Allah molomang tetap akan dilakukan,” ucap Lilis mantap.


Dan begitulah, di balik kepulan asap dan harum ketan bambu yang menyusup pagi, Koto Rajo menyimpan kisah syukur yang sederhana namun bermakna. Sebuah tradisi yang tidak hanya memberi semangat bagi pertanian mereka, tetapi juga memperkuat akar budaya yang menumbuhkan jati diri nagari. (Divia Putri Zen/Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang)