Pertama Kali Setelah 23 Tahun, Petugas BKSDA Temukan Ular Katang Kepala Merah di Agam -->

Iklan Atas

Pertama Kali Setelah 23 Tahun, Petugas BKSDA Temukan Ular Katang Kepala Merah di Agam

Jumat, 11 Juli 2025
Ular Langka Kepala Merah


Lubukbasung – Seekor ular langka jenis katang kepala merah (*Bungarus flaviceps*) berhasil ditemukan oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat saat melakukan patroli bersama aparat Polsek Palembayan di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau, Kabupaten Agam.

Penemuan ular sepanjang dua meter itu terjadi pada Rabu (9/7), tepatnya di wilayah Nagari Sungai Pua, Kecamatan Palembayan. Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, menjelaskan bahwa ular tersebut ditemukan dalam kondisi diam, hanya sekitar setengah meter dari tempatnya berdiri.

"Nyaris saja terinjak. Ini pengalaman yang sangat luar biasa," ujarnya di Lubukbasung, Kamis.

Ade mengungkapkan, selama lebih dari 23 tahun dirinya mengabdi di berbagai kawasan konservasi termasuk Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), baru kali ini ia menjumpai langsung ular jenis ini.

“Selama saya bertugas, belum pernah melihat secara langsung ular kepala merah ini, baik di TNKS maupun di wilayah konservasi lainnya di Sumatera Barat,” katanya.

Katang kepala merah merupakan spesies endemik Asia Tenggara, tersebar di sejumlah negara seperti Thailand Selatan, Myanmar Selatan, Vietnam, Kamboja, Malaysia, serta beberapa pulau besar di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ular ini biasanya menghuni hutan dataran rendah hingga ketinggian sekitar 900 meter, dan sangat jarang dijumpai di sekitar permukiman warga.

Ciri fisiknya cukup mencolok: kepala dan ekor berwarna merah terang, tubuh bagian atas berwarna hitam dengan garis putih kebiruan di sisi tubuh, serta bagian bawah berwarna pucat. Panjang tubuhnya rata-rata 1,2 hingga 1,5 meter, namun dapat tumbuh hingga 2,1 meter.

Secara ilmiah, ular ini memiliki 13 deret sisik dorsal, dengan sisik di bagian punggung (vertebral) berukuran lebih besar. Jumlah sisik ventral pada jantan berkisar antara 220–236 dan sisik subkaudal 47–53, sementara betina memiliki 193–217 sisik ventral dan 42–54 sisik subkaudal.

"Yang perlu diwaspadai, ular ini tergolong sangat berbisa dan bisa berakibat fatal bila tidak segera ditangani," tegas Ade.

Anggota Polsek Palembayan, Briptu Jefri Januardi, yang turut serta dalam patroli tersebut, juga mengaku terkesima dengan penemuan itu.

"Ini pertama kalinya saya melihat ular seperti itu. Bentuknya besar dan warnanya mirip king cobra. Pengalaman yang tak akan saya lupakan," ujarnya.(des*)