Tarif Trump dan Konflik Global Tekan Stabilitas Ekonomi RI -->

Iklan Atas

Tarif Trump dan Konflik Global Tekan Stabilitas Ekonomi RI

Jumat, 11 Juli 2025
Rupiah naik 6 poin atau sekitar 0,04% ke level Rp16.218 per dolar AS. 


Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada akhir sesi perdagangan hari Jumat (11/7/2025), menguat sebesar 6 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp16.218 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan ini terjadi di tengah sorotan investor terhadap kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump yang memicu dinamika baru dalam hubungan ekonomi internasional.

Trump menyatakan akan memberlakukan tarif impor sebesar 35 persen terhadap produk asal Kanada mulai 1 Agustus 2025. Ia juga mengancam akan menaikkan tarif lebih tinggi jika Kanada membalas kebijakan tersebut. Di hari yang sama, pemerintah AS juga resmi mengenakan bea masuk 25 persen bagi barang-barang dari Korea Selatan dan Jepang, serta 50 persen untuk impor tembaga.

Tak hanya itu, rencana penetapan tarif tambahan sebesar 10 persen juga diarahkan kepada negara-negara yang dianggap mendukung blok BRICS. Meskipun dampak langsung terhadap pergerakan pasar global masih terbatas, pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang dagang dalam waktu dekat.

Sementara itu, dari sisi geopolitik, konflik di Timur Tengah antara Israel dan Hamas belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Serangan terus dilancarkan ke Jalur Gaza, memperpanjang ketegangan di wilayah tersebut. Upaya diplomatik AS untuk menjembatani kesepakatan gencatan senjata masih belum membuahkan hasil, walaupun pihak Gedung Putih menyatakan kesepakatan sudah hampir tercapai.

Di kawasan Eropa Timur, Presiden Trump juga dikabarkan kecewa dengan sikap Presiden Rusia Vladimir Putin terkait minimnya kemajuan perundingan damai dengan Ukraina, serta meningkatnya intensitas serangan Rusia terhadap wilayah Ukraina.

Dari dalam negeri, muncul kekhawatiran di kalangan pelaku industri terkait potensi masuknya lonjakan produk impor, khususnya barang-barang elektronik, dari negara-negara yang kini dikenai tarif tinggi oleh AS seperti Tiongkok, Vietnam, dan Thailand. Negara-negara tersebut diperkirakan akan mengalihkan produk-produknya ke pasar lain, termasuk Indonesia, yang dinilai lebih terbuka.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke AS untuk produk-produk dalam kategori HS 85—termasuk barang elektronik dan alat rumah tangga berbasis listrik—mencapai USD2,22 miliar selama Januari hingga Mei 2025, atau sekitar 18,34 persen dari total ekspor ke Negeri Paman Sam. Namun, kontribusi dari segmen alat rumah tangga listrik masih terbilang kecil dibandingkan produk elektronik lainnya.

Menghadapi potensi banjir produk impor, para pelaku industri domestik menekankan pentingnya penguatan kebijakan Non-Tariff Measure (NTM). Di antaranya, percepatan revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 21 Tahun 2025, penghapusan sistem post-border, serta penguatan pengawasan di pelabuhan melalui penerapan entry point di kawasan timur Indonesia.

Selain itu, pengusaha juga mendorong konsistensi penerapan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam belanja pemerintah pusat dan daerah sebagai bentuk perlindungan terhadap industri lokal.

Melihat kondisi global dan domestik tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif pada perdagangan berikutnya. Nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.210 hingga Rp16.250 per dolar AS.(BY)