Bukittinggi – Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi, Sumatera Barat, Teguh Purnomo, mengingatkan masyarakat akan potensi ancaman banjir lahar dingin yang bisa terjadi akibat aliran air bercampur material vulkanik dari puncak gunung.
"Jika dilihat dari kejauhan, tampak seperti rekahan di puncak gunung. Namun sebenarnya, itu adalah aliran air yang terbentuk dari endapan material seperti pasir dan batu, terutama saat hujan turun," ujar Teguh saat ditemui di Bukittinggi, Sabtu (19/7).
Ia menegaskan bahwa aliran tersebut bukan merupakan retakan baru akibat letusan besar pada 3 Desember 2023. Sebelumnya, aliran air ini tertutup vegetasi. Namun setelah letusan, celah tersebut dipenuhi material labil yang kini rentan terbawa air saat hujan deras dan berpotensi menimbulkan banjir lahar dingin.
“Tumpukan material di puncak sangat tidak stabil. Ini menjadi ancaman serius, khususnya bagi wilayah yang dilintasi aliran sungai yang berhulu langsung dari Gunung Marapi,” lanjutnya, sembari mengingatkan tragedi banjir lahar dingin pada 11 Mei 2024 lalu yang menewaskan puluhan orang.
Hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih belum merilis data pasti mengenai jumlah aliran air pasca letusan. Namun hasil pemantauan melalui drone menunjukkan bahwa sebaran aliran tersebut mengarah ke lereng timur, selatan, dan barat daya Gunung Marapi.(des*)