Sejarah Baru, Penerbangan Jakarta–Denpasar Gunakan Bioavtur Pertamina -->

AdSense New

Sejarah Baru, Penerbangan Jakarta–Denpasar Gunakan Bioavtur Pertamina

Sabtu, 20 September 2025
Bahan Bakar Minyak Jelantah


Jakarta – Sejarah baru tercipta di dunia penerbangan Indonesia. Untuk pertama kalinya, pesawat komersial yang melayani rute Jakarta–Denpasar pada 20 Agustus 2025 menggunakan bahan bakar hasil olahan minyak jelantah. Penerbangan ini menjadi tonggak penting dalam upaya transisi energi ramah lingkungan di sektor aviasi nasional.

Bahan bakar berkelanjutan tersebut merupakan PertaminaSAF (Sustainable Aviation Fuel), produk bioavtur buatan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) yang memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) sebagai bahan baku utama.

Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menegaskan bahwa momen ini lebih dari sekadar penerbangan biasa.
“PertaminaSAF adalah lompatan besar bagi dunia penerbangan Indonesia. Penerbangan ini menjadi bukti bahwa KPI mampu menjadi pelopor energi hijau di tanah air. Kami telah membuktikan bahwa Indonesia bisa memproduksi bahan bakar pesawat masa depan,” ujar Taufik.

Produk ini diproduksi di Kilang Cilacap dan telah melewati serangkaian uji kualitas baik di laboratorium internal KPI maupun di lembaga independen seperti Lemigas. Ke depan, uji coba produksi juga akan dilakukan di Kilang Dumai dan Kilang Balongan untuk memperluas kapasitas.

PertaminaSAF diproses dengan teknologi co-processing menggunakan Katalis Merah Putih, hasil inovasi anak bangsa. Hasilnya, bioavtur ini dinyatakan memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan DefStan 91-091 yang berlaku secara global.

Lebih lanjut, Taufik menjelaskan bahwa PertaminaSAF mampu menurunkan emisi karbon hingga 81% dibandingkan dengan avtur berbahan fosil. Selain itu, produk ini menjadi bioavtur berkelanjutan pertama di Indonesia yang mengantongi sertifikasi ISCC CORSIA.

Keunggulan lainnya adalah titik beku PertaminaSAF yang lebih rendah dari standar internasional, yakni di bawah -47°C.
“Dengan titik beku yang sangat rendah, PertaminaSAF tetap aman dan tidak membeku meski di ketinggian jelajah pesawat komersial. Aspek keselamatan ini bahkan melampaui standar internasional sehingga memberi nilai tambah yang besar,” jelas Taufik.

Langkah ini diharapkan menjadi awal dari era baru penerbangan berkelanjutan di Indonesia, sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon nasional.(BY)