![]() |
| Banjir bandang sapu Tapanuli Tengah, satu keluarga meninggal. |
Tapanuli Tengah, fajarsumbar.com – Hujan deras yang turun tanpa henti sejak Senin (24/11/2025) malam mengubah sebagian wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, menjadi kawasan darurat bencana. Air bah setinggi hampir dua meter merendam permukiman warga, sementara longsor di sejumlah titik menghantam bangunan dan menutup akses jalan. Situasi ini membuat ribuan warga terpaksa berjibaku menyelamatkan diri sejak dini hari.
Di Kecamatan Pandan, kondisi terlihat paling memprihatinkan. Sebuah bangunan SMP Negeri ambruk diterjang tanah longsor. Puing-puing bangunan berserakan, menyisakan pemandangan memilukan dari fasilitas pendidikan yang selama ini menjadi tempat belajar ratusan siswa. Longsor yang sama juga merusak rumah-rumah warga dan tanggul PLTA Sihaporas, membuat aliran air tak lagi terkendali.
Sementara itu, kabar duka datang dari Kecamatan Sitahuis. Empat warga dari satu keluarga ditemukan meninggal dunia setelah tertimpa rumah yang roboh akibat tanah yang tak mampu menahan tekanan air. Proses evakuasi dilakukan sepanjang malam hingga akhirnya selesai sekitar pukul 08.00 WIB. “Sementara teridentifikasi 4 warga yang meninggal,” kata Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, saat dikonfirmasi, Selasa (24/11/2025).
Menurut data BPBD Tapanuli Tengah, banjir melanda sedikitnya delapan kecamatan, sedangkan longsor terjadi di lima kecamatan lainnya. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu aktivitas harian warga, tetapi juga menghancurkan berbagai fasilitas umum. Banyak rumah rusak berat, sejumlah bangunan pendidikan tak lagi utuh, dan tanggul jebol menambah risiko bencana susulan.
Petugas kepolisian, TNI, BPBD, dan relawan gabungan terus bergerak dari satu titik ke titik lain membawa perahu karet dan alat bantu lainnya. Tim SAR dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak, terutama lansia, anak-anak, dan ibu hamil yang tidak bisa keluar dari rumah terdampak.
Di posko-posko sementara, warga mulai menerima bantuan logistik berupa makanan siap saji, obat-obatan, dan pakaian. Namun akses yang masih terputus di beberapa lokasi membuat penyaluran bantuan harus dilakukan secara bertahap. Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar tetap siaga mengingat curah hujan masih berpotensi tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Kerusakan infrastruktur yang signifikan menjadi pekerjaan besar yang menanti pemerintah dan masyarakat setempat. Selain rumah warga, fasilitas umum seperti sekolah dan pembangkit listrik juga mengalami kerusakan yang menuntut penanganan cepat. Upaya pemulihan di area terdampak mulai disusun, namun kondisi cuaca yang terus berubah masih menjadi tantangan.
Hingga kini, operasi tanggap darurat masih berlangsung intensif. Petugas di lapangan fokus memastikan keselamatan warga dan mengevakuasi mereka yang masih berada di titik rawan. Harapan besar muncul dari masyarakat agar proses pemulihan bisa berjalan cepat sehingga kehidupan bisa kembali pulih dari bencana yang datang tiba-tiba ini.(*)
Komentar