Enam Jalur Utama di Sumbar Putus Total, Warga Diminta Tunda Perjalanan

AdSense New

Enam Jalur Utama di Sumbar Putus Total, Warga Diminta Tunda Perjalanan

Jumat, 28 November 2025

Kondisi terkini jembatan kembar perbatasan Padang Panjang dengan Kabupaten Tanah Datar setelah dihantam galodo. (ist)


Padang, fajarsumbar.com – Situasi transportasi di Sumatera Barat memasuki kondisi kritis setelah rangkaian banjir dan longsor memutus enam jalur utama sejak Kamis pagi (27/11/2025) hingga Jumat (28/11/2025) pagi ini. Menyusul kondisi ini, Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Barat mengeluarkan imbauan tegas agar masyarakat menunda seluruh perjalanan antar daerah hingga kondisi benar-benar aman.


Hujan ekstrem yang mengguyur berbagai wilayah sejak dini hari membuat sejumlah ruas vital yang menghubungkan Kota Padang dengan berbagai kabupaten dan kota lain lumpuh total. Aliran air deras dan material longsor menutup jalan raya, menyisakan antrean panjang kendaraan serta warga yang terjebak tanpa bisa bergerak. Aparat dari berbagai instansi siaga di titik-titik rawan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.


Dirlantas Polda Sumbar, Kombes Pol Reza Chairul Akbar Shiddiq, Jumat (28/11/2025) pagi ini mengatakan, bahwa keadaan di lapangan sangat membahayakan. Kondisi jalan yang tertimbun material longsor serta genangan banjir dalam membuat seluruh akses menjadi tidak layak dilalui. Menurutnya, memaksa melintas hanya akan menambah risiko kecelakaan dan menghambat proses evakuasi yang sedang dilakukan oleh tim gabungan.


“Kami mengimbau masyarakat untuk benar-benar menunda perjalanan. Situasi di lokasi terdampak sangat tidak stabil. Keselamatan harus ditempatkan di atas segala kebutuhan mobilitas,” kata Kombes Reza dalam pernyataannya.


Enam Ruas Penopang Mobilitas Sumbar Lumpuh Serentak

Bencana yang terjadi sejak Kamis pagi mengakibatkan enam jalur utama di Sumbar terputus. Jalur-jalur ini merupakan urat nadi pergerakan masyarakat dan distribusi logistik. Dirlantas merinci kondisi terkini di lapangan:


Pertama, akses Padang—Bukittinggi melalui jalur utama Silaiang dinyatakan tidak bisa dilewati sama sekali. Material longsor dalam jumlah besar menutup badan jalan dan memblokir arus transportasi ke dua arah.


Kedua, jalur alternatif Padang—Bukittinggi via Malalak juga dalam kondisi lumpuh setelah longsor susulan kembali menutup jalan di beberapa titik. Pembersihan tidak bisa dilakukan cepat karena medan licin dan hujan terus mengguyur.


Ketiga, jurusan Padang—Solok mengalami pemutusan total akibat longsor di kawasan Ripha hingga Jembatan Timbang Lubuk Selasih. Arus kendaraan dari dua arah harus dihentikan karena jalan tertutup sempurna oleh tanah dan batu.


Keempat, jalur Padang—Pesisir Selatan mengalami banjir besar di kawasan Tarusan. Ketinggian air yang mencapai pinggang orang dewasa membuat kendaraan sama sekali tidak mampu melintas.


Kelima, akses Bukittinggi—Lubuk Sikaping putus di daerah Palupuah akibat longsor besar yang merobohkan tebing di sisi jalan.


Keenam, jalur Bukittinggi—Lubuk Basung juga dinyatakan tidak dapat dilalui setelah longsor menimbun badan jalan di kawasan Kelok 44.


Dengan kondisi ini, Kombes Reza menegaskan bahwa rute menuju Bukittinggi adalah yang paling kritis karena seluruh jalur alternatif yang mengarah ke kota wisata tersebut lumpuh tanpa ada satu pun jalur yang bisa digunakan.


Aparat Fokus pada Evakuasi dan Pengamanan Lokasi

Sejak pagi, petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta Dinas PUPR dikerahkan untuk melakukan evakuasi warga yang terjebak di tengah bencana. Prioritas utama aparat saat ini adalah menyelamatkan warga, mengamankan pengguna jalan, dan memastikan tidak ada orang yang mencoba melintasi jalur-jalur berbahaya.


Upaya pembukaan jalan diperkirakan membutuhkan waktu lama. Selain volume material longsor yang besar, hujan yang belum berhenti menciptakan risiko longsor susulan yang sangat tinggi. Petugas tidak bisa bekerja maksimal jika situasi alam belum stabil.


“Pembersihan jalur tidak bisa dilakukan cepat. Curah hujan masih tinggi dan tebing di sekitar lokasi longsor masih labil. Kami prioritaskan keselamatan anggota dan masyarakat,” ujar Reza.

Di sejumlah titik, petugas memasang garis pembatas dan pagar darurat untuk mencegah pengendara memaksa masuk ke area rawan. Di lokasi banjir dalam seperti Tarusan, mobil patroli ditempatkan untuk memblokir akses menuju kawasan terdampak.


Masyarakat Diminta Tidak Berspekulasi dan Tetap Mengikuti Arah Petugas

Polda Sumbar mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil jalan pintas atau menerobos jalur yang sudah ditutup. Banyak warga yang berusaha mencari celah untuk melintas, namun tindakan tersebut justru membahayakan diri sendiri dan menghambat kerja tim evakuasi. Pada beberapa titik, arus air masih sangat deras sehingga rawan menyeret kendaraan.


Dirlantas juga mengimbau masyarakat untuk memperbarui informasi melalui kanal resmi pemerintah atau kepolisian. Mengandalkan informasi media sosial tanpa verifikasi dikhawatirkan membuat masyarakat salah mengambil keputusan.


Hingga Kamis siang, situasi di lapangan masih dinyatakan tidak aman. Petugas tetap berjaga dan mengarahkan warga untuk kembali ke tempat masing-masing atau mencari tempat berlindung sementara bila terjebak.


Polda memastikan perkembangan kondisi akan diumumkan secara berkala, termasuk pembukaan jalur jika situasi memungkinkan. Namun hingga kini, seluruh jalur vital tersebut masih tertutup dan belum dapat difungsikan kembali.(Ab)